Sembilan bulan pertama pemerintahan sering kali menjadi masa bulan madu bagi seorang kepala negara. Namun, bagi Presiden Prabowo Subianto, periode ini justru diwarnai oleh penyusutan kepercayaan publik yang cukup signifikan. Hasil riset terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan adanya tren penurunan apresiasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang terbilang drastis, mendekati batas psikologis separuh populasi.
Berdasarkan temuan SMRC yang dirilis pada akhir Juli 2026, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo kini berada di angka 51,1 persen. Angka tersebut merupakan akumulasi dari warga yang merasa cukup puas sebesar 46,3 persen dan sangat puas yang hanya mencapai 4,8 persen. Di sisi lain, kelompok masyarakat yang menyatakan kurang atau tidak puas telah membengkak hingga mencapai 46,9 persen, sementara sisanya sebesar 2,1 persen memilih tidak memberikan jawaban.
Penurunan ini terlihat sangat kontras jika ditarik garis linier sejak akhir tahun lalu. Pada November 2025, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo masih bertengger kokoh di angka 81,2 persen. Tren penurunan mulai terdeteksi pada Maret 2026 saat angka kepuasan merosot ke 66 persen, hingga akhirnya menyentuh level 51,1 persen pada Juli 2026. Secara total, terjadi kemerosotan sebesar 30,1 persen hanya dalam kurun waktu sembilan bulan.
Pemerintah Kantongi Komitmen Investasi Asing Ratusan Triliun Rupiah untuk Dorong Lapangan Kerja

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam pemaparannya melalui kanal YouTube SMRC TV menjelaskan bahwa fenomena ini tidak terjadi di ruang hampa. Menurutnya, merosotnya angka kepuasan ini berkelindan erat dengan penilaian negatif masyarakat terhadap tiga sektor krusial, yaitu kondisi perekonomian nasional, dinamika politik, serta penegakan hukum yang dinilai belum memenuhi harapan publik. Ketiga sektor ini menjadi motor utama yang menggerakkan persepsi negatif warga.
Lonjakan ketidakpuasan publik ini tergolong luar biasa. Pada survei November 2025, persentase warga yang tidak puas hanya berada di angka 16 persen. Namun, dalam waktu kurang dari setahun, angka tersebut melonjak tajam menjadi 46,9 persen. Deni menyebut pergeseran ini sebagai fenomena yang menarik sekaligus menjadi alarm bagi jalannya roda pemerintahan, mengingat jumlah warga yang tidak menentukan pilihan atau tidak menjawab cenderung stabil.
Kabinet Prabowo Subianto Diisi Sejumlah Menteri Era Jokowi, Koalisi Sipil Bentuk Kabinet Bayangan

Secara metodologi, survei opini publik ini digelar pada rentang waktu 5 hingga 19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak. Pengumpulan data dilakukan secara hibrida, di mana 83,8 persen responden yang memiliki telepon diwawancarai secara langsung via suara, sementara 16,2 persen sisanya ditemui secara tatap muka. Dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,7 persen, studi ini memberikan gambaran riil mengenai dinamika sosial politik yang sedang terjadi di tanah air.






