Kepercayaan Publik terhadap Kondisi Politik dan Kinerja Presiden Merosot Tajam

Domu TobingPublished 27 Jul 2026 - 08.140 Reads
Bagikan WhatsAppX
Kepercayaan Publik terhadap Kondisi Politik dan Kinerja Presiden Merosot Tajam
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Suhu politik di Tanah Air tampaknya sedang tidak baik-baik saja di mata masyarakat. Hasil riset terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan adanya pergeseran sentimen publik yang cukup drastis. Sebanyak 42,8 persen warga kini menilai kondisi politik nasional berada dalam koridor yang buruk atau sangat buruk. Angka ketidakpuasan ini melonjak tajam dibandingkan dengan temuan pada November 2025 yang kala itu baru menyentuh 23 persen. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang memandang iklim politik saat ini masih berada dalam kategori baik kian menyusut hingga menyisakan angka yang sangat minim.

Kemerosotan persepsi ini berbanding lurus dengan anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Dalam kurun waktu sembilan bulan saja, tingkat kepuasan terhadap kepala negara melorot sekitar 30 persen. Pada November 2025, tingkat kepuasan publik sempat bertengger kokoh di angka 81,2 persen. Namun, memasuki Juli 2026, angka tersebut merosot tajam menjadi 51,1 persen. Sebaliknya, persentase masyarakat yang merasa tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kinerja kepemimpinan nasional justru melonjak dari sekitar 16 persen menjadi 46,9 persen.

Also Read

BKN Uji Coba Kebijakan Kerja Dekat Rumah untuk Tekan Biaya Hidup ASN

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa hanya ada 13,5 persen responden yang menganggap kondisi politik nasional saat ini berkategori baik atau sangat baik. Jika dirinci lebih dalam, hanya 1,7 persen responden yang menyatakan kondisi politik sangat baik dan 11,8 persen menilai baik. Sementara itu, 33,6 persen responden memilih posisi netral dengan menilai kondisi sedang-sedang saja. Di kubu seberang, ada 31,7 persen yang menganggapnya buruk, 11,1 persen menilai sangat buruk, dan sisanya sebanyak 10,2 persen memilih untuk tidak menjawab atau mengaku tidak tahu.

Tren penurunan ini bukan terjadi secara mendadak, melainkan sebuah degradasi konsisten selama hampir setahun terakhir. Pada November 2025, pandangan positif publik terhadap politik nasional masih berada di angka 35,8 persen. Angka ini kemudian menyusut menjadi 27,1 persen pada periode Februari hingga Maret 2026, sebelum akhirnya terpuruk di angka 13,5 persen pada Juli 2026. Menurut analisis SMRC, runtuhnya kepuasan publik ini tidak berdiri sendiri. Ada korelasi kuat antara penurunan apresiasi terhadap kinerja presiden dengan merosotnya evaluasi warga terhadap tiga sektor krusial, yakni perekonomian, situasi politik, serta penegakan hukum di Indonesia.

Also Read

PM Narendra Modi Rombak Sistem Ujian Nasional Setelah Ditekan Demonstrasi Anak Muda

Studi bertajuk Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden ini diselenggarakan oleh SMRC pada rentang 5 hingga 19 Juli 2026. Survei ini melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari seluruh warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih, baik yang sudah berusia 17 tahun ke atas maupun yang sudah menikah. Metode pengumpulan data dilakukan secara hibrida, di mana sebanyak 605 responden atau 83,8 persen yang memiliki telepon seluler diwawancarai secara langsung via telepon, sementara 144 responden atau 16,2 persen yang tidak memiliki ponsel ditemui secara tatap muka. Melalui metodologi tersebut, riset ini memiliki margin of error sebesar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca