Air waduk yang biasanya tenang di pagi itu menyimpan pemandangan yang tak akan mudah dilupakan oleh warga sekitar. Sosok yang mengapung dalam posisi telungkup itu adalah Sumarna, seorang petugas keamanan berusia 40 tahun yang sehari-hari bertugas menjaga area Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Jumat (24/7), langit masih pucat ketika seorang rekan satpam melihat tubuh tersebut dan segera melaporkan ke penduduk setempat. Keheningan pagi berubah menjadi riuh rendah tatkala warga berdatangan, dan laporan itu langsung diteruskan ke pihak kepolisian.
Sumarna bukanlah nama yang asing bagi komunitas di sekitar waduk. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun menjalankan tugas pengamanan, bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian warga yang beraktivitas di kawasan itu. Kabar penemuan jasadnya sontak menggetarkan lingkungan sekitar. Tak sedikit yang bertanya-tanya, bagaimana seorang penjaga keamanan bisa berakhir dalam kondisi yang begitu memprihatinkan. Kehilangan ini tidak hanya memukul keluarga dan rekan kerja, tetapi juga menaburkan benih-benih pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di area yang biasa dianggap aman itu.
Keanehan paling mencolok terkuak saat evakuasi dilakukan. Petugas mendapati kedua tangan korban terborgol ke belakang, seolah mengisyaratkan bahwa kematian ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Posisi tersebut langsung memantik spekulasi di tengah masyarakat, meski aparat berulang kali menahan diri untuk tidak menarik kesimpulan dini. Para penyelidik lebih memilih merangkai kepingan fakta di lapangan: setiap jejak di tepi air, kesaksian warga, hingga barang-barang yang mungkin terkait dengan korban. Olah tempat kejadian perkara dilakukan dengan teliti, dan jenazah segera dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi demi menjawab teka-teki sebab pasti kematian.
Malam Tanpa Rompi Pink, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Digiring ke Rutan dan Pertanyakan Alat Bukti

Kepolisian Resor Purwakarta bersama jajaran Polda Jawa Barat bergerak cepat dengan memeriksa sejumlah saksi, termasuk rekan satpam yang pertama kali menemukan dan mereka yang terakhir berinteraksi dengan korban. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa penyidik bekerja dengan profesionalisme tinggi, berpegang pada bukti dan hasil pemeriksaan ilmiah, tanpa memberi ruang pada dugaan yang tak berdasar. Publik diminta bersabar dan tidak membiarkan spekulasi liar mengaburkan proses hukum yang tengah berjalan.
Di tengah duka yang menyelimuti keluarga, polisi menekankan pentingnya kepercayaan kepada mekanisme penyelidikan yang objektif. “Kami mengandalkan autopsi dan bukti yang terverifikasi untuk mengungkap kebenaran. Saat ini, segala kemungkinan masih terbuka, dan itulah sebabnya kami belum bisa membeberkan detail lebih jauh,” demikian inti dari keterangan resmi yang disampaikan. Upaya ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan memastikan bahwa setiap langkah berjalan sesuai koridor hukum.
Febrie Adriansyah dan Ironi Penahanan dari Gedung yang Pernah Dipimpinnya

Sementara itu, waduk yang menjadi saksi bisu peristiwa itu kini menyisakan kesunyian yang berbeda. Aktivitas di sekitarnya tetap berjalan, namun bayang-bayang tragedi masih menggantung. Keluarga korban, rekan kerja, dan masyarakat Purwakarta kini hanya bisa menanti hasil autopsi serta perkembangan penyelidikan. Harapan terbesar mereka adalah agar kebenaran segera terang, dan keadilan bagi Sumarna tidak tertunda oleh misteri yang menyelubungi detik-detik terakhirnya.






