Suasana Ruang Tebengang di Kantor Bupati Malinau pada Sabtu pagi itu berubah menjadi lautan warna-warni dan gelak tawa. Lebih dari sembilan ratus anak, guru sekolah minggu, pendamping, dan panitia dari 44 gereja yang tersebar di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, berkumpul untuk merayakan Hari Anak Nasional ke-42. Hajatan yang diinisiasi oleh Persekutuan Anak Kristen Oikumene (PAKO) Malinau ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah panggung kolaborasi langka yang mempertemukan puluhan denominasi gereja dalam satu tarikan napas: mencintai dan memperjuangkan masa depan anak-anak daerah.
Dalam catatan panitia, antusiasme jemaat melebihi dugaan. Ketua PAKO Kabupaten Malinau, Leliana Ade, menyebut total kehadiran mencapai sekitar 925 orang. Mereka tidak hanya duduk manis, tetapi langsung terlibat dalam deretan lomba edukatif yang dirancang untuk mengasah pengetahuan dan kreativitas. Sebanyak 34 tim pelajar SMP bertarung dalam cerdas cermat Alkitab, 55 peserta dari jenjang SD mengikuti lomba menggambar dan mewarnai, sementara 32 kelompok menunjukkan kebolehan mereka dalam lomba gerak dan lagu. “Kehadiran yang begitu masif ini bukan sekadar angka,” ujar Leliana. “Ini bukti bahwa pembinaan iman dan karakter anak adalah napas yang sama dari seluruh gereja di Malinau.”
Saudara Kandung yang Terluka di Bundaran HI

Tema yang diusung, “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, disandarkan pada ayat Yeremia 29:11 yang menegaskan bahwa setiap anak adalah rancangan indah dengan masa depan penuh harapan. Leliana mengingatkan, tanggung jawab melindungi dan membimbing anak bukan monopoli orang tua atau sekolah. Ia menyebut lima pilar yang harus bergerak serempak: keluarga, gereja, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Di tengah zaman yang menantang, kegiatan seperti ini dinilai menjadi oase untuk menanamkan nilai-nilai spiritual sekaligus memperkuat ikatan sosial antargereja. “Momentum ini untuk mempererat persatuan, menumbuhkan iman, serta melahirkan generasi yang mengasihi Tuhan dan sesama,” tambahnya.
Kehadiran Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, menambah bobot acara itu. Di hadapan ribuan mata yang berbinar, ia secara terbuka memberikan apresiasi mendalam kepada panitia. Menurutnya, mengatur 44 organisasi gereja dengan peserta hampir seribu orang bukanlah pekerjaan sederhana. “Atas nama pemerintah, saya angkat topi. Ini butuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan finansial yang tidak sedikit,” ujar Bupati. Ia mengaku bangga melihat wajah-wajah ceria yang memadati Ruang Tebengang, menandakan bahwa peringatan Hari Anak Nasional benar-benar menjadi milik bersama, bukan sekadar tanggal di kalender.
Warga Sentani Barat Serbu Layanan Cek Kesehatan Gratis, Ibu Hamil Dapat Perhatian Khusus

Bupati Wempi lalu menekankan empat hal pokok yang harus menjadi komitmen semua pihak: mendoakan, melindungi, mendidik, dan mencintai anak-anak. Baginya, mendidik tidak hanya mengisi otak dengan pengetahuan, tetapi juga menempa hati agar tumbuh rasa takut akan Tuhan dan cinta pada sesama. Di bawah teduhnya atap pemerintahan daerah, pesan itu terasa lebih kuat karena lahir dari kolaborasi lintas institusi—gereja dan negara berjalan seiring. Momen yang dimulai dengan doa dan diisi dengan tawa anak-anak itu menutup hari dengan harapan bahwa Kabupaten Malinau tengah menabur benih generasi yang tangguh, penuh kasih, dan berakar pada nilai-nilai kebersamaan.






