apriniageosat.co.id
HomeNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasionalTransportasiBencanaWisataPemerintahanKeperdataanEnergiManajemenSejarahInfrastrukturKeagamaanMetroEdukasiMitigasi BencanaPopuler
Home/Internasional

Intimidasi dan Ujaran Kebencian Paksa Sembilan Sekolah Rohingya di Malaysia Tutup

Usat NgajiPublished 28 Jul 2026 - 09.11 路 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Intimidasi dan Ujaran Kebencian Paksa Sembilan Sekolah Rohingya di Malaysia Tutup
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan harapan bagi anak-anak pengungsi Rohingya di Malaysia kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi kecemasan. Gelombang ujaran kebencian dan kampanye disinformasi yang marak di jagat maya telah menjelma menjadi ancaman nyata di dunia fisik. Situasi yang kian memanas ini akhirnya memaksa setidaknya sembilan sekolah khusus pengungsi di berbagai wilayah Malaysia untuk menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar mereka. Akibatnya, ratusan anak kehilangan akses pendidikan formal karena kekhawatiran mendalam akan keselamatan fisik mereka dari tindakan intimidasi.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasional
Ketakutan yang melanda komunitas ini tergambar jelas dari pengalaman pahit yang menimpa Nur, seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Harapan Nur untuk terus belajar terputus sejak Juni lalu setelah ia diadang dan diancam oleh dua orang pria tidak dikenal saat sedang berjalan menuju sekolahnya. Para pendidik dan kelompok pegiat hak asasi manusia menegaskan bahwa apa yang dialami Nur bukanlah peristiwa tunggal. Banyak anak pengungsi lainnya yang mengalami pelecehan serupa di ruang publik, yang akhirnya mendorong pengelola sekolah mengambil keputusan sulit untuk menutup operasional demi menghindari jatuhnya korban kekerasan.

Dampak psikologis dari tekanan sosial ini sangat membekas pada mental anak-anak yang dasarnya sudah rentan. Aktivis kemanusiaan dari komunitas Rohingya, Sharifah Shakirah, mengungkapkan bahwa rasa takut kini telah menguasai kehidupan sehari-hari anak-anak tersebut. Mereka tidak hanya takut pergi ke sekolah, tetapi juga enggan untuk sekadar melangkah keluar dari pintu rumah mereka. Shakirah mengingatkan bahwa dampak buruk dari trauma psikologis dan hilangnya kesempatan belajar ini akan membayangi masa depan mereka dalam jangka panjang, menciptakan generasi yang kehilangan arah tanpa bekal pendidikan dasar.

Also Read

Pemadaman Listrik Sepuluh Jam Memicu Gerakan Melumpuhkan Pemerintah Libya

Pemadaman Listrik Sepuluh Jam Memicu Gerakan Melumpuhkan Pemerintah Libya

Penutupan sekolah-sekolah pengungsi ini menjadi bukti nyata bagaimana narasi kebencian di dunia maya dapat menghancurkan kehidupan nyata. Berdasarkan penelusuran, kampanye hitam dan penyebaran informasi palsu di media sosial telah memicu sentimen negatif yang meluas di tengah masyarakat. Hal ini kemudian berujung pada peningkatan pengawasan yang diskriminatif terhadap komunitas Rohingya. Kasus ini sekaligus menjadi alarm keras mengenai lemahnya tanggung jawab dan pengawasan platform digital dalam menyaring konten-konten yang memicu permusuhan serta membahayakan kelompok minoritas.

Kondisi para pengungsi kian terjepit karena kebijakan resmi pemerintah setempat. Malaysia hingga saat ini tidak meratifikasi konvensi pengungsi internasional, sehingga tidak mengakui status pengungsi Rohingya dan tetap menganggap mereka sebagai imigran tanpa dokumen. Padahal, data menunjukkan terdapat sekitar 120.000 warga Rohingya yang secara resmi terdaftar di bawah pengawasan Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Ketiadaan payung hukum ini membuat posisi mereka sangat rentan terhadap perubahan dinamika sosial dan politik di negara penampung.

Also Read

Perang Buntu dengan Iran Mulai Menyudutkan Posisi Politik Donald Trump

Perang Buntu dengan Iran Mulai Menyudutkan Posisi Politik Donald Trump

Sentimen publik terhadap pengungsi Rohingya dilaporkan terus memburuk sejak masa pandemi Covid-19, di mana komunitas ini kerap dijadikan kambing hitam atas berbagai persoalan sosial. Ketegangan ini juga tercermin dari pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia, Lukanisman Awang Sauni, yang menyebutkan bahwa masyarakat lokal mulai merasa terbebani oleh kehadiran para pengungsi. Di tengah perdebatan politik dan penolakan sosial yang kian meruncing, masa depan anak-anak pengungsi Rohingya kini berada di ujung tanduk, terombang-ambing tanpa kepastian hukum dan hak atas pendidikan.

Follow apriniageosat.co.id

Add to preferred sources on Google

Topik Terkait

MalaysiaintimidasiRohingyasekolah pengungsiujaran kebencian

Berita Terbaru Lainnya

Polda Metro Jaya Pastikan Kabar Penembakan Ajudan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Adalah HoaksPolisi Buru Pemesan Utama Sindikat Buzzer Pembuat HoaksTragedi Main Hakim Sendiri Jadi Alarm Runtuhnya Kepercayaan Publik pada Penegak HukumMarc Klok Sebut Indonesia Harusnya Bisa Cetak Lebih Banyak Gol ke Gawang KambojaIndonesia Perjuangkan Pembebasan Bea Masuk Minyak Sawit di Pasar Amerika SerikatPemerintah Siapkan Skema Baru Insentif Kendaraan Listrik demi Proyek Mobil NasionalKamboja Petik Pelajaran Berharga Usai Ditekuk Indonesia di Piala AFFKrom Bank Luncurkan Gerakan Kromovement untuk Dorong Dampak Sosial Berkelanjutan

Paling Banyak Dibaca

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Belajar dari Kasus Lubuk Pakam, Ini Prosedur Aman Aktivasi Rekening PIP

Pendidikan

Belajar dari Kasus Lubuk Pakam, Ini Prosedur Aman Aktivasi Rekening PIP

27 Jul 2026

馃敟

Popular

  1. 1Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional 路 25 Jul 2026
  2. 2Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  3. 3Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027Pariwisata 路 26 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
  5. 5Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan 路 27 Jul 2026
Transportasi
Bencana
Wisata
Pemerintahan
Keperdataan
Energi
Manajemen
Sejarah
Infrastruktur
Keagamaan
Metro
Edukasi
Mitigasi Bencana

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap