Kebuntuan konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kini menempatkan Presiden Donald Trump dalam posisi yang kian terjepit. Setelah gencatan senjata selama tiga bulan resmi berakhir, pertempuran yang kembali pecah bulan ini tidak kunjung menunjukkan keunggulan strategis bagi Washington. Di tengah jeda operasi militer AS pasca-serangan malam berturut-turut, keraguan justru mulai menjalar dari dalam lingkaran pendukung Trump sendiri, terutama menjelang Pemilu Sela yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Tekanan politik domestik kian nyata ketika tokoh-tokoh penting Partai Republik mulai mempertanyakan arah dan durasi konflik ini. Ketua DPR AS Mike Johnson serta presenter Fox News Laura Ingraham secara terbuka mendesak Trump untuk segera menyelesaikan perang sebelum para pemilih mendatangi tempat pemungutan suara. Senator Bill Cassidy bahkan menilai Trump sebenarnya memiliki peluang emas untuk mengakhiri perselisihan ini lebih cepat, namun kesempatan itu terbuang tanpa penyelesaian yang jelas. Kini, Trump dihadapkan pada pilihan sulit karena Iran menolak proposal perdamaian, sedangkan ancaman militer AS tidak lagi efektif menekan Teheran.
Sentimen publik Amerika kian memburuk seiring dengan meningkatnya jumlah korban jiwa di pihak militer. Gugurnya empat prajurit AS baru-baru ini menggenapkan total korban tewas menjadi 18 orang, sementara data internal Pentagon menunjukkan jumlah korban luka kini telah melampaui 600 prajurit. Berdasarkan survei Reuters/Ipsos, jatuhnya korban jiwa ini memicu penolakan perang dari 42 persen pemilih Republik dan 53 persen pemilih independen. Kendati Trump mengeklaim keluarga prajurit tetap mendukung penuh operasi militer ini, data statistik menunjukkan bahwa publik AS semakin tidak melihat urgensi dari perang yang terus berlarut-larut tersebut.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Dampak perang ini tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga langsung memukul kantong warga Amerika melalui lonjakan harga energi. Situasi diperparah oleh aksi milisi Houthi di Yaman yang memblokade Selat Bab al-Mandeb dan menyerang kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melambung melewati angka 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara harga bensin di tingkat domestik AS melonjak melampaui 4 dolar AS per galon. Kenaikan harga bahan bakar ini menjadi senjata makan tuan yang menyulitkan Trump untuk mempertahankan narasi perang di hadapan publiknya sendiri.
Di sisi lain, opsi militer yang dimiliki Trump sangat berisiko. Rencana serangan masif terhadap infrastruktur vital Iran berpotensi melanggar hukum internasional, sedangkan opsi menguasai wilayah strategis seperti Pulau Kharg atau Selat Hormuz membutuhkan pengerjaan pasukan darat yang ditentang oleh 68 persen warga AS. Kekhawatiran juga datang dari internal pemerintahan; Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan mencemaskan menipisnya cadangan amunisi AS jika eskalasi terus ditingkatkan.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Kebuntuan ini akhirnya memaksa Trump menurunkan standar kemenangan yang sebelumnya ia janjikan. Target awal berupa penyerahan tanpa syarat dan pelarangan total senjata nuklir Iran kini tampaknya mulai bergeser ke arah kompromi yang lebih pragmatis, seperti sekadar memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Kongres AS mulai bergerak membatasi ruang gerak presiden melalui wewenang anggaran dan War Powers Act. Anggota DPR Nancy Mace mengkritik siasat pemerintah yang menggunakan jeda gencatan senjata untuk menghindari batasan waktu hukum perang, menandakan bahwa dukungan legislatif untuk Trump kini berada di titik nadir.






