Kebuntuan konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kini menempatkan Presiden Donald Trump dalam posisi yang kian terjepit. Setelah gencatan senjata selama tiga bulan resmi berakhir, pertempuran yang kembali pecah bulan ini tidak kunjung menunjukkan keunggulan strategis bagi Washington. Di tengah jeda operasi militer AS pasca-serangan malam berturut-turut, keraguan justru mulai menjalar dari dalam lingkaran pendukung Trump sendiri, terutama menjelang Pemilu Sela yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Tekanan politik domestik kian nyata ketika tokoh-tokoh penting Partai Republik mulai mempertanyakan arah dan durasi konflik ini. Ketua DPR AS Mike Johnson serta presenter Fox News Laura Ingraham secara terbuka mendesak Trump untuk segera menyelesaikan perang sebelum para pemilih mendatangi tempat pemungutan suara. Senator Bill Cassidy bahkan menilai Trump sebenarnya memiliki peluang emas untuk mengakhiri perselisihan ini lebih cepat, namun kesempatan itu terbuang tanpa penyelesaian yang jelas. Kini, Trump dihadapkan pada pilihan sulit karena Iran menolak proposal perdamaian, sedangkan ancaman militer AS tidak lagi efektif menekan Teheran.








