Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi sektor industri di Provinsi Jawa Tengah. Hingga akhir Juli 2026, jumlah pekerja yang terkena dampak PHK di wilayah ini telah menembus angka 6.604 orang. Sektor industri garmen dan tekstil tercatat menjadi kontributor terbesar yang paling merasakan dampak lesunya kondisi ekonomi saat ini. Data ketenagakerjaan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz.
Jika dirinci berdasarkan sektor industri, bidang garmen dan tekstil mendominasi dengan menyumbang angka PHK sebesar 51,4 persen dari keseluruhan kasus yang ada di Jawa Tengah. Posisi berikutnya ditempati oleh sektor manufaktur dan industri mainan anak yang mencatatkan persentase sebesar 21,1 persen. Sementara itu, industri pengolahan kayu berkontribusi sebesar 12,5 persen terhadap total pekerja yang kehilangan pekerjaan, diikuti oleh industri pembuatan bulu mata palsu yang menyumbang angka sebesar 9,4 persen.








