Tim peneliti dari University of Delaware menempuh perjalanan laut sejauh 50 hingga 65 kilometer dari pantai untuk merekrut "asisten" tidak biasa dalam memantau cuaca ekstrem. Langkah ini menandai dimulainya proyek ilmiah di mana ilmuwan pakai hiu buat prediksi kekuatan badai di laut sebelum badai tersebut menghantam daratan. Dengan memanfaatkan pergerakan alami predator puncak ini, para ilmuwan berharap dapat mengumpulkan data oseanografi krusial dari wilayah laut dalam yang selama ini sulit dijangkau oleh peralatan deteksi standar.
Proses penangkapan dan pemasangan alat dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak membahayakan keselamatan hiu. Tim peneliti menggunakan tali berumpan dan biasanya menunggu sekitar dua hingga tiga jam sampai seekor hiu menyambar umpan tersebut. Setelah hiu berhasil didekatkan ke kapal dan diamankan, para peneliti bergegas memasang sensor khusus pada sirip punggungnya. Proses pemasangan ini diselesaikan dengan cepat dalam waktu kurang dari lima menit sebelum hiu dilepaskan kembali ke habitatnya. Agar tidak mengganggu hewan tersebut selamanya, sensor dirancang menggunakan material yang dapat mengalami korosi sehingga alat akan terlepas dengan sendirinya setelah periode tertentu.
Menperin Bantah Isu Deindustrialisasi, Sebut Kontribusi Manufaktur ke PDB Stabil

Perangkat yang dipasang pada sirip punggung hiu ini dinamakan tag CTD. Alat tersebut bekerja dengan merekam konduktivitas listrik air laut鈥攜ang berhubungan erat dengan salinitas鈥攕erta mengukur suhu dan kedalaman saat hiu berenang maupun menyelam. Informasi tersebut kemudian dikirimkan secara mendekati waktu nyata melalui jaringan satelit ketika hiu muncul ke permukaan. Aaron Carlisle, peneliti utama sekaligus profesor di School of Marine Science and Policy, University of Delaware, menjelaskan bahwa fokus utama penelitian ini adalah mengamati kandungan panas di lapisan atas laut yang dikenal sebagai lapisan campuran. Lapisan inilah yang berperan besar dalam mempengaruhi intensitas badai.
Pemasangan sensor ini dimulai pada awal Mei, saat berbagai spesies hiu yang bermigrasi mulai bergerak mendekati kawasan pesisir setelah menghabiskan musim dingin di wilayah Atlantik yang lebih jauh. Berdasarkan analisis sebelumnya, tim peneliti mengidentifikasi beberapa spesies sebagai kandidat kuat untuk penelitian di Atlantik Utara, yaitu hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar yang masih berusia muda. Caroline Wiernicki, kandidat doktor ilmu kelautan di University of Delaware, turut berpartisipasi dalam penelitian lapangan ini untuk mengamati perilaku serta pergerakan hiu tersebut.
Kesepakatan Baru Pemerintah dan Apple, Larangan iPhone 16 Segera Dicabut

Metode pengumpulan data menggunakan sensor yang dipasang pada tubuh hewan sebenarnya bukan hal baru. Para ahli oseanografi telah berhasil menggunakan teknik serupa selama bertahun-tahun pada anjing laut gajah di wilayah kutub yang minim pengamatan ilmiah langsung. Kini, penerapan metode ini pada spesies hiu diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam mitigasi bencana. Data yang berhasil dihimpun berpotensi meningkatkan akurasi prakiraan intensitas badai di sepanjang Pantai Timur Amerika Serikat, khususnya bagi masyarakat pesisir mulai dari North Carolina hingga Massachusetts agar dapat melakukan persiapan dengan lebih baik. Kendati demikian, para ilmuwan mencatat adanya keterbatasan teknis seperti ketergantungan pada kemunculan hiu ke permukaan untuk transmisi data lewat satelit serta masa pakai sensor yang dibatasi oleh proses korosi alami material pelepasnya.






