Hipertensi Intai 1,9 Juta Siswa, Skrining Massal Bongkar Potret Kesehatan Pelajar

Domu TobingPublished 25 Jul 2026 - 22.46 · 1 Reads
Bagikan WhatsAppX
Hipertensi Intai 1,9 Juta Siswa, Skrining Massal Bongkar Potret Kesehatan Pelajar
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Di tengah hingar-bingar tahun ajaran baru, sebuah potret kesehatan anak Indonesia terkuak lewat angka yang tak bisa dianggap remeh. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah yang berjalan sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2026 telah menyisir lebih dari 8,8 juta siswa di hampir 100 ribu sekolah. Hasilnya, lebih dari seperlima dari mereka—sekitar 1,91 juta anak dan remaja—terdeteksi mengalami tekanan darah tinggi. Hipertensi yang selama ini lekat dengan gaya hidup orang dewasa kini menjadi sinyal bahaya bagi generasi yang masih duduk di bangku SD hingga SMA.

Data dari Badan Komunikasi Pemerintah memperlihatkan, karies gigi masih menjadi musuh nomor satu. Empat dari sepuluh siswa, atau sekitar 3,6 juta anak, mengalami gigi berlubang. Angka ini menjadi pengingat bahwa kebersihan mulut dan akses ke layanan gigi sederhana masih menjadi pekerjaan rumah besar di lingkungan pendidikan. Namun, kehadiran hipertensi di posisi ketiga dengan 21,7 persen menjadi sorotan yang menggeser perhatian publik: tekanan darah tinggi tidak lagi menunggu usia 40 tahun.

Also Read

Diam-Diam Layar Menggerogoti Tubuh dan Mental Anda

Di sisi lain, remaja putri menghadapi beban ganda. Temuan 2,4 juta di antaranya mengidap anemia—27,3 persen dari total siswa yang diperiksa—mengisyaratkan masalah asupan zat besi yang masih menghantui. Padahal, anemia bukan hanya soal cepat lelah, melainkan dapat menggangu konsentrasi belajar dan pertumbuhan. Di saat yang sama, obesitas juga menyapa 591 ribu siswa (6,7 persen), menegaskan bahwa malnutrisi hadir dalam dua wajah: kekurangan dan kelebihan, sama-sama merugikan.

Sorotan lain tidak kalah mencengangkan. Serumen impaksi atau kotoran telinga yang mengeras dijumpai pada 529 ribu siswa, atau 6,0 persen peserta. Kondisi ini sering diabaikan, padahal bisa meredam pendengaran dan menghambat interaksi belajar di kelas. Pemerintah pun mengakui bahwa data ini ibarat membuka kotak pandora. CKG Sekolah yang dicanangkan sebagai program quick win Presiden Prabowo Subianto sejak 4 Agustus 2025 menyasar rentang usia 7 hingga 17 tahun di seluruh jenjang, termasuk Sekolah Luar Biasa dan pondok pesantren, melintasi 511 kabupaten dan kota.

Also Read

Demi Keamanan Warga, Gubernur Jabar Rela Rogoh Tabungan Sendiri untuk Hadiah Penangkapan Begal

Dengan temuan mengejutkan ini, pemerintah berencana melipatgandakan cakupan. Target tahun 2026 adalah menjangkau lebih dari 50 juta siswa di 303 ribu sekolah. Angka besar ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya mengintervensi lebih awal sebelum penyakit tidak menular mengakar di usia produktif. Potret kesehatan pelajar Indonesia hari ini menjadi alarm bagi orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan: mencegah lebih mudah daripada mengobati, dan skrining gratis adalah jendela awal untuk menyelamatkan masa depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca