Setiap hari, miliaran unit pendingin udara (AC) dan lemari es di seluruh dunia bekerja tanpa henti untuk menjaga kesegaran makanan dan kenyamanan suhu ruangan. Di balik fungsi krusial tersebut, terdapat ancaman lingkungan tersembunyi berupa penggunaan senyawa hydrofluorocarbon (HFC) atau yang lebih populer dikenal sebagai freon. Selama puluhan tahun, industri global terjebak dalam siklus penguapan dan kondensasi freon yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Namun, sebuah terobosan ilmiah dari Lawrence Berkeley National Laboratory di University of California, Berkeley, bersiap untuk mengubah total peta teknologi pendingin ini dengan memanfaatkan bahan yang sangat akrab dengan keseharian kita, yaitu garam.
Terobosan ini berpusat pada sebuah metode inovatif yang dinamakan siklus ionokalori (ionocaloric cycle). Konsep dasarnya meniru cara alamiah es menyerap panas saat mencair. Ketika suhu lingkungan meningkat, es akan berubah wujud menjadi air dan secara otomatis menyedot energi panas di sekitarnya, sehingga menciptakan efek dingin. Para peneliti berupaya mereplikasi proses perubahan wujud fisik ini tanpa harus menaikkan suhu untuk memicu pencairan. Solusi cerdas yang mereka temukan adalah dengan menambahkan partikel bermuatan energi yang disebut ion ke dalam material pendingin.
Prinsip kerja penambahan ion ini sebenarnya mirip dengan metode kuno yang sering digunakan di negara-negara dengan empat musim. Di wilayah tersebut, garam biasa ditaburkan di atas jalanan bersalju saat musim dingin agar es segera mencair dan tidak membahayakan pengguna jalan. Dengan memanipulasi struktur material menggunakan aliran ion, para peneliti berhasil mengontrol proses penyerapan dan pelepasan energi panas secara lebih efisien dan terkendali.
Amerika Serikat Sahkan Undang-Undang yang Mengancam Keberadaan TikTok

Drew Lilley, salah satu peneliti utama dari Lawrence Berkeley National Laboratory, menjelaskan tantangan besar yang dihadapi industri ini selama bertahun-tahun. Menurutnya, belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan suhu dingin secara efisien, aman bagi pengguna, sekaligus ramah lingkungan. Ia menegaskan bahwa tim peneliti sangat meyakini siklus ionokalori memiliki potensi besar untuk menjadi jawaban atas kebuntuan teknologi pendingin global saat ini.
Dalam rangkaian uji coba laboratorium, tim peneliti menggunakan formula garam yang diracik dari yodium dan natrium untuk mencairkan senyawa etilena karbonat. Senyawa cair ini sangat ramah lingkungan karena diproduksi dengan memanfaatkan karbon dioksida, bahan yang juga lazim digunakan dalam industri pembuatan baterai lithium-ion. Melalui integrasi ini, proses pendinginan yang dihasilkan tidak hanya menghasilkan nol emisi, melainkan berpotensi mencapai emisi negatif yang sangat menguntungkan bagi kelestarian bumi. Hasil pengujian menunjukkan performa yang sangat menjanjikan, di mana suhu mampu berubah hingga 25 derajat Celcius hanya dengan pasokan daya listrik sebesar 1 volt.
Kewajiban Twibbon MPLS yang Mengancam Keamanan Digital Siswa Baru

Saat ini, fokus penelitian telah bergeser ke arah komersialisasi dan pengembangan sistem praktis agar teknologi ini dapat segera diaplikasikan pada perangkat rumah tangga secara massal. Tantangan berikutnya adalah menemukan jenis garam yang memiliki kemampuan paling optimal dalam menyerap panas dari ruangan. Pada tahun 2025, tim peneliti berhasil mengidentifikasi bahwa garam berbasis nitrat menunjukkan tingkat efisiensi paling tinggi untuk mendukung sistem pendingin masa depan ini. Jika fase komersialisasi ini berjalan lancar, era kulkas dan AC berbahan bakar freon yang merusak ozon akan segera berakhir.






