Tidur malam yang cukup dan memiliki kualitas yang baik merupakan hal yang sangat krusial serta penting bagi proses tumbuh kembang setiap remaja. Namun, bagi para remaja yang didiagnosis dengan kondisi Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), mendapatkan tidur malam yang berkualitas sering kali menjadi tantangan yang sangat besar. Hubungan antara ADHD dan gangguan tidur dinilai sangat erat oleh para ahli, di mana penderita ADHD kerap kali mengalami kesulitan yang signifikan untuk dapat memejamkan mata dan beristirahat dengan tenang di malam hari.
Salah satu pemicu utama dari hubungan erat antara ADHD dan gangguan tidur ini adalah adanya keterlambatan pada ritme sirkadian. Ritme sirkadian sendiri merupakan jam biologis internal tubuh manusia yang berfungsi untuk mengatur siklus kapan kita harus bangun dan tidur. Pada remaja yang mengalami ADHD, fase pelepasan hormon melatonin鈥攜aitu hormon alami di dalam tubuh yang bertugas untuk memicu rasa kantuk鈥攕ering kali mengalami penundaan. Keterlambatan pelepasan hormon melatonin ini bahkan bisa mencapai hingga dua jam jika dibandingkan dengan remaja pada umumnya yang tidak memiliki kondisi ADHD.
Pemprov Jateng Ubah Lahan Tidur Belasan Tahun Jadi Produktif Melalui Program Revola

Selain masalah jam biologis internal, terdapat faktor internal lain yang turut mempersulit proses relaksasi tubuh di malam hari, yaitu kondisi otak penderita ADHD itu sendiri yang cenderung terus aktif (hyperactive brain). Keadaan otak yang terus bekerja ini membuat mereka kesulitan untuk menenangkan pikiran menjelang waktu tidur. Keadaan ini juga dapat diperumit oleh penggunaan obat-obatan untuk terapi ADHD. Obat golongan stimulan yang biasa dikonsumsi oleh penderita untuk membantu meningkatkan fokus mereka di siang hari ternyata dapat bertahan di dalam sistem tubuh hingga malam hari. Akibatnya, obat stimulan tersebut dapat menunda munculnya rasa kantuk di malam hari, terutama jika dikonsumsi terlalu sore.
Faktor eksternal seperti penggunaan teknologi juga memperparah kondisi sulit tidur ini. Paparan cahaya biru (blue light) yang dipancarkan dari layar gawai terbukti secara ilmiah dapat menekan produksi hormon melatonin di dalam tubuh. Ketika remaja dengan ADHD mengalami kurang tidur secara kronis akibat faktor-faktor tersebut, dampak negatif yang ditimbulkan bisa sangat luas. Efek domino dari kurang tidur kronis ini meliputi peningkatan emosionalitas yang membuat mereka lebih sensitif, penurunan daya ingat, hingga kesulitan untuk berkonsentrasi saat belajar di sekolah. Lebih jauh lagi, kurangnya waktu tidur ini juga dapat memperburuk gejala-gejala utama dari ADHD itu sendiri ketika mereka beraktivitas di siang hari.
Kena Comeback di Anfield, Liverpool Takluk 2-3 dari AS Monaco

Untuk mengatasi berbagai permasalahan tidur tersebut, pakar menyarankan para orang tua untuk mengambil langkah proaktif dengan menerapkan kebiasaan tidur yang konsisten bagi anak-anak mereka. Orang tua dianjurkan untuk menetapkan jadwal tidur dan bangun yang sama setiap hari serta memastikan anak-anak mematikan gawai mereka setidaknya satu jam sebelum waktu tidur tiba guna menghindari paparan cahaya biru. Selain menjaga kebiasaan tidur, pemenuhan nutrisi tertentu seperti magnesium juga dapat membantu. Kandungan magnesium ini dapat diperoleh secara alami dari konsumsi makanan sehari-hari, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, sayur bayam, buah alpukat, serta ikan berlemak yang baik untuk tubuh.






