Pada akhir Juli 2023, Elon Musk mengejutkan dunia digital dengan menghapus nama dan logo Twitter yang telah melegenda selama 17 tahun. Burung biru yang menjadi ikon percakapan global digantikan oleh huruf X bergaya minimalis, sebuah langkah yang langsung memicu perbincangan di seluruh platform. Keputusan ini diambil kurang dari sembilan bulan setelah Musk mengakuisisi perusahaan media sosial itu senilai 44 miliar dolar AS pada Oktober 2022. Rebrand besar-besaran tersebut bukan sekadar perubahan tampilan; Musk mengumumkan bahwa alamat domain x.com kini secara otomatis mengarah ke twitter.com, mengonfirmasi ambisinya untuk mengubur identitas lama dan memulai era yang sama sekali baru.
Proses penghapusan merek Twitter berlangsung cepat dan tanpa kompromi. Logo burung biru yang sebelumnya bertengger di kantor pusat San Francisco diturunkan, sementara istilah “tweet” dan “retweet” mulai diganti menjadi “post” dan “repost” di antarmuka pengguna. Musk menjelaskan bahwa X adalah bagian dari strategi membangun “aplikasi segala” atau everything app, sebuah platform yang tidak hanya menawarkan mikroblog, tetapi juga layanan pesan instan, pembayaran digital, hingga pemesanan layanan. Konsep ini terinspirasi oleh keberhasilan WeChat di Tiongkok. Untuk menegaskan visi tersebut, Musk menunjuk mantan eksekutif periklanan NBCUniversal, Linda Yaccarino, sebagai CEO X Corp guna merayu kembali para pemasang iklan yang sempat hengkang.
Rekening Ludes Sekejap, Ini Titik Lengah yang Diincar Pencuri Digital

Dampak rebrand ini terasa langsung di kalangan pengguna setia dan pengamat industri. Banyak warganet yang kecewa karena ikon burung biru dianggap mewakili budaya internet yang khas dan telah dikenali secara universal. Tagar #GoodbyeTwitter sempat menggema, sementara sebagian pengguna memilih bermigrasi ke platform saingan seperti Bluesky dan Threads milik Meta yang baru diluncurkan. Para pakar pemasaran menyebut perubahan ini sebagai langkah berisiko yang mengabaikan ekuitas merek bernilai miliaran dolar. Nama Twitter bahkan telah menjadi kata kerja dalam bahasa Inggris, “to tweet,” yang kini terpaksa kehilangan relevansinya. Resistensi dari basis pengguna loyal langsung terlihat, meskipun Musk mengklaim bahwa penurunan jumlah pengguna aktif tidak signifikan secara bisnis.
Dari sisi keuangan, laporan Brand Finance mencatat bahwa nilai merek Twitter mengalami penyusutan drastis sekitar 32 persen pada 2023, menjadi hanya 3,9 miliar dolar AS, jauh di bawah nilai akuisisi yang dibayarkan Musk. Sejumlah analis menyebut kombinasi antara PHK massal, pelonggaran moderasi konten, dan kini penghilangan merek ikonik sebagai contoh destruksi nilai yang jarang terjadi. Keraguan pengiklan semakin besar setelah beberapa laporan menunjukkan lonjakan ujaran kebencian di platform yang direbrand menjadi X. Meski Yaccarino berupaya memulihkan kepercayaan melalui transparansi data dan fitur keamanan baru, pendapatan iklan dilaporkan masih belum kembali ke level sebelum pengambilalihan.
Ketika Kamera Tajam Justru Mengantar Kulit Asli ke Puncak Tren

Terlepas dari gejolak, Musk terus melaju dengan pembaruan fitur di bawah bendera X. Panggilan audio dan video, transfer uang peer-to-peer, serta integrasi dengan layanan miliknya seperti xAI mulai diperkenalkan secara bertahap. Rebrand ini menjadi eksperimen paling berani dalam transformasi media sosial modern: mengorbankan warisan budaya digital demi ambisi ekosistem tertutup yang serba ada. Apakah X akan sukses meniru model super-app seperti yang diimpikan Musk, atau justru kehilangan komunitas intinya, masih menjadi pertanyaan terbuka. Satu hal yang pasti, langkah ini telah menciptakan studi kasus baru tentang batas antara inovasi dan penghancuran merek di era teknologi.






