Doa Seorang Ibu di Kebun Sayur yang Berbuah Peringkat Pertama Selama Lima Tahun

Parlin SinagaPublished 26 Jul 2026 - 11.20 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Doa Seorang Ibu di Kebun Sayur yang Berbuah Peringkat Pertama Selama Lima Tahun
Foto/Ilustrasi: liputan6.com.
A-A+

Setiap kali rapor dibagikan di SD Inpres Wae Moto, ada satu nama yang tak pernah bergeser dari posisi teratas sejak kelas dua: Citra. Gadis kecil yang kini duduk di bangku kelas enam itu tidak sekadar mengumpulkan nilai sempurna. Ia menyimpan cerita tentang kerja keras yang dimulai jauh sebelum matahari terbit, di atas tanah basah sebuah kebun sayur di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Di balik prestasi itu berdiri Veronika Reni, perempuan yang memilih melawan keterbatasan dengan sekop dan benih. Sebelum fajar menyentuh Kampung Wae Moto, ia sudah berada di antara barisan sawi dan tomat, memastikan tanaman tumbuh baik agar Citra tak pernah kekurangan buku tulis. Veronika menolak takdir yang sama terulang: anak perempuannya kelak tidak perlu ke kebun karena dikejar utang, melainkan karena ia ingin. Maka ketika program PNM Mekaar menyentuh kampung itu pada 2020, ia menjadi orang pertama yang mendaftar. Bukan sekadar mencari modal usaha, melainkan membeli masa depan.

Also Read

Di Atas Geladak, Masa Depan Distribusi Energi Nasional Bertumpu pada Bahu 13 Pemuda

Keputusan itu membawa perubahan yang tidak gaduh, namun pasti. Akses pembiayaan dan pendampingan rutin kelompok membuat kebun sayur Veronika bertahan melewati musim-musim sulit. Hasil panen yang sebelumnya habis untuk makan, perlahan bisa disisihkan untuk keperluan sekolah. Buku, seragam, hingga ongkos transportasi tidak lagi menjadi hantu di akhir bulan. Di saat yang sama, Citra tumbuh memahami bahwa meja belajarnya dibangun dari tanah liat yang diolah ibunya dengan sabar. Nilai-nilai kerjanya terus memuncak, menjadikan peringkat pertama sebagai jawaban seorang anak atas peluh yang setiap hari ditumpahkan sang ibu.

Momentum Hari Anak Nasional ke-42 pada 23 Juli 2026 bertema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” menemukan wajahnya di rumah panggung sederhana milik Veronika. Direktur Utama PNM, Kindaris, menyebut keberhasilan pemberdayaan tak cukup dinilai dari omzet yang naik, melainkan dari seberapa lebar pintu sekolah terbuka bagi anak-anak nasabah. Itu sebabnya PNM Scholarship 2026 disalurkan kepada 1.590 penerima dari keluarga peserta Mekaar dan ULaMM. Salah satu di antaranya adalah Citra. Dengan beasiswa ini, sekat ekonomi yang dulu mengancam masa pendidikan sang juara kelas kini mulai luruh, menyisakan ruang lebih lapang bagi mimpinya.

Also Read

Menelusuri Kisah Jakarta dari Dek Terbuka

Lima tahun berturut-turut menjadi yang terbaik bukanlah perkara angka di atas kertas. Itu adalah terjemahan paling jujur dari kegigihan seorang ibu yang menolak menyerah pada kemiskinan. Di Kampung Wae Moto, setiap tangkai sayur yang dipanen Veronika adalah doa. Dan setiap kali Citra membawa pulang hasil ulangan, terbukti bahwa doa-doa yang ditanam di tanah tumbuh dengan baik. Cerita ini adalah potongan kecil dari jutaan dapur prasejahtera di Nusantara: ketika seorang ibu mendapatkan akses, pendampingan, dan kepercayaan untuk berdaya, mimpi anak-anaknya tidak lagi melayang tanpa pijakan. Citra boleh bercita-cita ke langit mana pun; ibunya sudah menyiapkan bumi tempat mimpi itu berpijak.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca