Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa pakaian tetap terasa sejuk meski tubuh sedang berkeringat? Kenyamanan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari inovasi ilmiah. Di balik pakaian modern, ada teknologi yang direkayasa dari serat yang memungkinkan selembar kain memiliki kemampuan fungsional khusus. Teknologi tekstil masa kini telah berkembang jauh melampaui fungsi dasar pakaian sebagai penutup tubuh, bertransformasi menjadi produk rekayasa teknologi tinggi yang menunjang aktivitas sehari-hari.
Kepala Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Rina Afiani Rebia, menjelaskan bagaimana industri pakaian memanfaatkan perkembangan ini. Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa di Jepang, merek Uniqlo justru terkenal karena teknologi yang mereka tawarkan pada produknya, bukan sekadar menjual baju. Melalui rekayasa serat, produsen dapat menciptakan pakaian dengan fitur sirkulasi udara yang baik (breathable) serta kemampuan cepat kering (quick dry). Teknologi ini memungkinkan keringat dapat tersalurkan sehingga pakaian lebih cepat kering.
Gubernur Dedi Mulyadi Akan Rampingkan OPD dan Gabungkan BUMD Jawa Barat

Inovasi semacam ini lahir dari riset mendalam yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Rina, yang menempuh pendidikan magister (S2) dan doktor (S3) selama sekitar lima tahun di Shinshu University, Jepang, membagikan pengalamannya bahwa pengembangan tekstil di sana bersinggungan erat dengan bidang otomasi dan robotika untuk industri, kimia dan polimer, Kansei Engineering, hingga polimer tingkat lanjut (advanced polymer). Selama studinya, Rina mendalami pemanfaatan tekstil fungsional untuk kebutuhan medis, seperti pengembangan material non-woven yang mengandung obat atau zat antibakteri untuk penanganan luka.
Tidak hanya untuk kebutuhan medis, teknologi serat juga diaplikasikan pada produk sanitasi sehari-hari. Dosen Rekayasa Tekstil UII, Ahmad Satria Budiman, mengisahkan perjalanannya saat mendalami pengolahan serat. Setelah mengikuti program joint degree bidang rekayasa tekstil di Thailand, Ahmad melanjutkan studi S2 di KTH, Swedia, tepatnya di Department of Fiber and Polymer Technology. Saat menyusun tesis di Division of Fiber Technology, ia khusus belajar tentang teknologi pengolahan serat, termasuk riset pengembangan material penyerap untuk popok dan pembalut menggunakan selulosa berukuran nano agar dapat menyerap sekaligus menahan cairan.
Dedi Mulyadi Nilai Evaluasi Anggaran Jadi Kunci Orkestrasi Pembangunan Jabar

Untuk mencetak ahli di bidang ini, Program Studi Rekayasa Tekstil UII membekali mahasiswanya dengan pemahaman komprehensif. Mahasiswa mempelajari serat, pembuatan material, manufaktur dan pengujian, kimia tekstil, teknologi nano, hingga tekstil fungsional. Melalui rekayasa ini, bahan kain dapat dirancang agar memiliki kemampuan khusus seperti pakaian antibakteri atau pakaian yang memiliki sifat membersihkan diri sendiri (self-cleaning). Selain itu, aspek keberlanjutan juga dipelajari melalui sustainable textile, yang mengkaji bagaimana serat, bahan pewarna, dan proses produksi dapat dikembangkan agar lebih ramah lingkungan.






