Aula SMA Negeri 1 Mimika, Kota Timika, dipenuhi sekitar seratus siswa pada Sabtu lalu. Kehadiran Anggota Komisi XIII DPR RI Yan Permenas Mandenas bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah perjumpaan yang mengusung visi besar: mencetak generasi muda Papua yang tidak takut melangkah keluar, lalu kembali untuk merajut kemajuan daerah. Di tengah sosialisasi relawan gerakan kebajikan Pancasila yang digagas BPIP, politikus asal Papua itu meletakkan fondasi pemikiran bahwa ruang kelas di Timika adalah awal dari persaingan yang jauh lebih luas.
Di hadapan para pelajar, Yan Mandenas menitipkan pesan yang mengakar kuat pada keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci pembuka gerbang perubahan. Ia meminta siswa untuk tidak sekadar belajar demi nilai, melainkan menanamkan jiwa pejuang sejak bangku sekolah. Persaingan global, katanya, tidak menunggu siapa pun, dan hanya mereka yang bersungguh-sungguh yang akan mampu berdiri sejajar. Semangat keluar dari zona nyaman menjadi napas yang diembuskan berulang kali, menyiratkan bahwa masa depan Papua tidak akan dibangun hanya dengan menetap di batas-batas yang familiar.
Saat Jazz Menyatukan Langit Bromo dan Geliat Ekonomi Warga

Hambatan paling nyata yang disorot dalam pertemuan itu adalah penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Yan Mandenas tidak menutupi fakta bahwa masih sangat terbatasnya kemampuan bahasa Inggris di kalangan pelajar menjadi ganjalan serius untuk mengakses beasiswa internasional. Sebagai solusi awal, ia mengusulkan agar sekolah mulai mempersiapkan siswa kelas X dan XI melalui kelas bahasa khusus. Langkah ini dinilai strategis agar begitu menamatkan pendidikan menengah, mereka sudah memiliki bekal komunikasi global yang memadai. Komitmen mendorong kerja sama beasiswa antara pemerintah daerah dan lembaga internasional juga ditegaskan, dengan harapan setiap tahun ada wakil Papua yang melanjutkan studi ke luar negeri.
Puncak arahannya justru bertumpu pada kalimat penuh daya: “Tunjukkan bahwa saya keluar untuk belajar dan kembali ke daerah saya bukan menjadi pembawa masalah tetapi harus menjadi pembawa solusi.” Kalimat itu bukan sekadar penyemangat, melainkan cetak biru peran yang diharapkan dari para siswa kelak. Yan Mandenas ingin setiap pemuda yang berangkat menimba ilmu ke luar daerah bisa memaknai kepulangan sebagai saat menuai jawaban atas kompleksitas pembangunan dan masalah kesejahteraan di Papua. Dengan begitu, mobilitas pendidikan bukan berubah menjadi kehilangan putra-putri terbaik, tetapi sebagai siklus penyubur perubahan yang berakar pada kebutuhan lokal.
Beasiswa Banpin Bekasi Kembali Dibuka, 100 Pemuda Berprestasi Berpeluang Kuliah Penuh

Sesi itu tidak berjalan satu arah. Para siswa dan guru turut menyampaikan aspirasi mereka secara langsung, menjadikan perjumpaan tersebut sebagai ruang dialog yang hidup. Di balik seluruh arahan, terselip keyakinan bahwa SMA Negeri 1 Mimika bisa menjadi salah satu titik awal lahirnya generasi yang berani bermimpi besar, bersiap secara teknis melalui penguatan bahasa, dan pulang untuk menulis ulang masa depan daerahnya sendiri.






