Cek Kesehatan Gratis di Kementrans, Wamen Sebut Penyakit Banyak Datang dari Pikiran

Togar PanjaitanPublished 25 Jul 2026 - 22.40 · 1 Reads
Bagikan WhatsAppX
Cek Kesehatan Gratis di Kementrans, Wamen Sebut Penyakit Banyak Datang dari Pikiran
Foto/Ilustrasi: tempo.co.
A-A+

Ruang kerja di lingkungan Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, berubah menjadi ruang periksa sementara pada Rabu, 22 Juli 2026. Sebanyak 800 pegawai antre bukan untuk rapat atau tanda tangan dokumen, melainkan untuk menjalani pemeriksaan fisik dan konsultasi kesehatan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi memandang langsung kegiatan yang merupakan edisi kedua ini, menegaskan bahwa kehadiran negara tak hanya bisa dirasakan lewat program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga melalui Cek Kesehatan Gratis yang kini rutin digelar.

Di balik hingar-bingar pemeriksaan itu, terselip pesan besar yang menyangkut haluan pembangunan manusia Indonesia. Viva Yoga menyebut seluruh program semacam ini berakar pada Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto. Lebih dari sekadar seremonial, cek kesehatan gratis ditampilkan sebagai wujud tanggung jawab negara untuk menghadirkan kesejahteraan dan melindungi seluruh warga. Dengan langkah preventif macam ini, negara ingin membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga sehat dan kreatif. Maka, pegawai yang datang diimbau memanfaatkan momen tersebut untuk benar-benar memahami kondisi tubuhnya, bukan sekadar memenuhi panggilan kedinasan.

Also Read

Diam-Diam Layar Menggerogoti Tubuh dan Mental Anda

Suasana semakin terasa berbeda ketika Wamen merujuk data yang membalik persepsi umum tentang ancaman penyakit. Penyakit menular boleh jadi menurun sebarannya, tetapi gangguan tak menular—hipertensi, kegemukan berlebih, masalah paru-paru, jantung, dan gula—justru menunjukkan lonjakan angka yang mengkhawatirkan. Pola hidup sehari-hari disebut sebagai tersangka utama. Gaya kerja yang minim gerak, kebiasaan konsumsi instan, dan tekanan yang tak dikelola dengan baik menjadi bom waktu yang kerap diabaikan. Maka, filosofi “datanglah ke dokter saat tubuh masih sehat, bukan hanya ketika sakit” coba ditanamkan secara masif melalui kegiatan ini.

Namun Viva Yoga tidak berhenti pada aspek jasmani. Di hadapan para pegawai, ia melontarkan pandangan yang lebih dalam: bahwa kesehatan sejati menyangkut rohani pula. Ia menukil literatur yang menyebut hanya sekitar 20 persen penyakit muncul dari makanan, sedangkan 80 persen lainnya bersumber dari pikiran. Pernyataan itu sontak mengalihkan perhatian dari timbangan dan tensimeter ke kondisi batin masing-masing. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya rutin berolah raga, mengolah batin, mengolah pikiran, dan mengolah rasa. Bekerja, katanya, harus disertai rasa gembira tanpa meninggalkan tanggung jawab. Hanya dengan keseimbangan itulah seseorang bisa benar-benar sehat—dan ternyata, sehat itu murah.

Also Read

Hipertensi Intai 1,9 Juta Siswa, Skrining Massal Bongkar Potret Kesehatan Pelajar

Konsistensi menjadi kunci agar kesadaran ini tidak menguap begitu acara selesai. Viva Yoga mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, drg. Yuli Astuti Saripawan, atas kolaborasi yang membuat Cek Kesehatan Gratis kedua ini bisa terselenggara. Kementerian Transmigrasi dan Kementerian Kesehatan berkomitmen menghadirkan pemeriksaan serupa setiap tahun. Lebih dari sekadar rutinitas tahunan, inisiatif ini menjadi napak tilas kecil menuju budaya hidup yang menempatkan pencegahan di garda terdepan. Ketika negara hadir bukan hanya di hilir saat rakyat terbaring sakit, tetapi juga di hulu saat kesempatan menjaga diri masih terbuka lebar, maka janji melindungi segenap bangsa menemukan bentuknya yang paling nyata.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca