Kenaikan biaya pendidikan menjelang tahun ajaran baru 2026 tidak serta-merta menyurutkan minat dan kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan sekolah, khususnya produk alas kaki. Berdasarkan pernyataan dari Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), lonjakan pengeluaran untuk biaya sekolah sejauh ini belum menekan angka permintaan pasar terhadap sepatu sekolah. Meskipun para orang tua dihadapkan pada penyesuaian anggaran pendidikan yang meningkat, pembelian sepatu untuk anak-anak sekolah terpantau masih tetap berjalan dengan baik.
Menurut data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok pengeluaran pendidikan memang mengalami inflasi sebesar 0,55 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada periode Juli 2026. Kenaikan biaya ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan dan bimbingan belajar. Inflasi pada sektor pendidikan ini mencerminkan adanya penyesuaian biaya masuk sekolah maupun biaya operasional pendidikan lainnya yang harus ditanggung oleh masyarakat pada tahun ajaran baru tersebut.
Jika dirinci lebih lanjut, kenaikan biaya pendidikan paling tinggi pada bulan Juli 2026 terjadi pada biaya taman kanak-kanak (TK) yang mencatatkan inflasi hingga mencapai 1,73 persen. Angka inflasi biaya TK pada Juli 2026 ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan inflasi biaya TK pada periode Juli 2025 yang tercatat sebesar 1,59 persen. Sementara itu, untuk biaya bimbingan belajar (bimbel) pada Juli 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 1,58 persen. Kenaikan biaya bimbel ini terpantau masih lebih rendah atau mengalami penurunan dibandingkan dengan periode Juli 2025 yang sempat menyentuh angka inflasi sebesar 1,91 persen. Di sisi lain, biaya sekolah dasar (SD) mengalami inflasi sebesar 1,17 persen pada Juli 2026, yang juga menunjukkan tren melandai jika dibandingkan dengan inflasi Juli 2025 yang mencapai 1,65 persen.
Dirut BSI Tantang Mahasiswa Baru Unpad Mulai Bangun Aset Sejak Dini

Di tengah situasi kenaikan berbagai biaya pendidikan tersebut, industri alas kaki nasional justru mencatatkan performa penjualan yang positif. Sekretaris Jenderal Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, mengungkapkan bahwa pesanan alas kaki untuk kebutuhan tahun ajaran baru 2026 justru mencatatkan sedikit peningkatan. Kenaikan pesanan sepatu sekolah ini terpantau mengalami pertumbuhan tipis jika dibandingkan dengan pesanan pada tahun 2025 yang lalu. Tidak hanya itu, volume pesanan untuk tahun ajaran baru ini juga mencatatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan periode musiman penting lainnya, yaitu masa Ramadan dan Lebaran pada tahun 2026.
Meskipun terdapat kenaikan pesanan untuk tahun ajaran baru 2026, pasokan sepatu tersebut tidak sepenuhnya dipenuhi oleh aktivitas produksi baru pada tahun berjalan. Permintaan pasar yang meningkat tersebut masih ditopang oleh stok hasil produksi dari tahun 2025 yang lalu. Pasokan untuk memenuhi lonjakan pesanan alas kaki sekolah pada tahun ajaran baru ini disuplai dengan memanfaatkan kelebihan persediaan atau overstock yang tersisa dari tahun 2025. Langkah ini diambil guna menjaga ketersediaan barang di pasar tanpa harus memaksakan kapasitas produksi baru yang dinilai kurang ekonomis pada tahun ini.
KPPG Semarang Selidiki Dugaan SPPG Beli Ayam dan Telur di Bawah HAP

Yoseph Billie Dosiwoda menjelaskan lebih lanjut bahwa volume produksi alas kaki pada tahun 2026 ini memang sengaja tidak dirancang dalam jumlah banyak. Rendahnya volume produksi baru pada tahun 2026 disebabkan oleh melambungnya harga bahan baku industri persepatuan. Kenaikan harga bahan baku tersebut dipicu oleh dampak perang yang mengganggu rantai pasok global. Oleh karena itu, pemanfaatan stok produksi tahun 2025 menjadi solusi utama bagi para pelaku industri untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan sepatu sekolah masyarakat di tengah tantangan biaya produksi yang tinggi pada tahun 2026.






