Kementerian Pekerjaan Umum (PU) secara aktif melakukan berbagai langkah strategis demi mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan membangun infrastruktur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang berlokasi di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Pembangunan infrastruktur pengairan ini dirancang khusus untuk membantu para petani setempat dalam mengamankan pasokan air bagi lahan pertanian mereka. Keberadaan JIAT ini menjadi sangat krusial, terutama sebagai langkah antisipasi agar para petani tetap memiliki sumber air yang memadai ketika curah hujan mengalami penurunan akibat adanya ancaman dari fenomena iklim El Nino.
Secara teknis, Jaringan Irigasi Air Tanah atau JIAT merupakan sebuah sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah dengan menggunakan sumur bor atau pompa air. Sistem pengairan ini difungsikan untuk mengairi lahan-lahan pertanian, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau oleh jaringan irigasi permukaan. Dengan memanfaatkan cadangan air di dalam tanah, JIAT menjadi solusi efektif untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian di daerah yang kesulitan mendapatkan aliran air permukaan. Melalui penerapan sistem ini, ketersediaan air untuk tanaman pertanian dapat lebih terjamin meskipun kondisi cuaca sedang tidak mendukung atau saat musim kemarau ekstrem melanda.
Akselerasi Penerapan Identitas Kependudukan Digital (IKD) Kemendagri Capai 21 Juta Pengguna

Pembangunan infrastruktur JIAT di wilayah Kabupaten Banjar ini dilaksanakan secara langsung oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin. Salah satu titik proyek pembangunan JIAT ini terletak di Desa Bawahan Seberang, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. Di lokasi tersebut, BWS Kalimantan III Banjarmasin membangun jaringan irigasi sepanjang 1 kilometer. Proyek di desa ini didukung oleh pembuatan sumur bor yang memiliki kedalaman mencapai 100 meter. Sumur bor tersebut mampu menghasilkan debit air sekitar 3 liter per detik, yang dinilai cukup untuk mengairi lahan pertanian masyarakat seluas 10,71 hektare di kawasan sekitarnya.
Selain di Desa Bawahan Seberang, BWS Kalimantan III Banjarmasin juga melaksanakan pembangunan proyek serupa di lokasi lain, yaitu di Desa Bawahan Selan. Di desa ini, jaringan JIAT yang dibangun memiliki panjang 760 meter dan diproyeksikan mampu mengairi lahan pertanian yang lebih luas, yakni mencapai 13,30 hektare. Sumur bor yang dibuat di Desa Bawahan Selan memiliki kedalaman hingga 126 meter, dengan kapasitas produksi debit air yang sama, yaitu sekitar 3 liter per detik. Untuk mendukung operasionalnya, sistem JIAT ini menggunakan tenaga listrik sebagai sumber daya utama dalam menggerakkan pompa, serta dilengkapi dengan generator atau genset sebagai sumber daya cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan listrik. Kehadiran infrastruktur pengairan ini pun disambut dengan sangat baik oleh Waluyo, selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat.
Kebakaran Pabrik Bingkai di Pondok Kelapa Jakarta Timur Merembet ke Rumah Warga

Terkait proyek infrastruktur ini, Menteri PU Dody Hanggodo memberikan perhatian khusus dan menyampaikan arahannya. Menteri PU Dody Hanggodo meminta agar pengembangan sistem JIAT ini tidak hanya berhenti pada tahap pembangunan sumur bor dan pemasangan pompa air tanah saja. Ia menekankan pentingnya melengkapi proyek tersebut dengan pembangunan jaringan saluran tersier. Pembangunan saluran tersier ini diperlukan agar distribusi air dari sumur bor dapat mengalir secara lebih efektif, merata, dan langsung menjangkau lahan-lahan pertanian milik para petani. Di samping fungsi utamanya untuk mengairi sawah dan ladang, infrastruktur JIAT ini juga memberikan manfaat tambahan yang signifikan bagi masyarakat sekitar, yaitu sebagai penyedia pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pembangunan seluruh fasilitas JIAT di Kabupaten Banjar ini pun ditegaskan sejalan dengan komitmen Visi PU608.






