Diskusi mengenai penurunan berat badan dan konsumsi kuliner pedas sering kali memunculkan pertanyaan: Benarkah Makanan Pedas Bisa Membakar Kalori? Banyak orang meyakini bahwa sensasi panas setelah menyantap cabai dapat meluruhkan lemak dengan cepat. Namun, sejumlah data ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih kompleks mengenai pengaruh senyawa kimia dalam cabai terhadap metabolisme tubuh manusia.
Penelitian demi penelitian dilakukan untuk membuktikan klaim tersebut. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa capsaicinoid dan capsinoid memang dapat meningkatkan resting metabolic rate atau laju metabolisme saat beristirahat. Senyawa capsaicin sendiri merupakan kandungan utama yang memberikan rasa pedas pada cabai dan diketahui dapat memengaruhi pengeluaran energi serta proses oksidasi lemak di dalam tubuh.
Doa Puasa Senin Kamis Lengkap dengan Keutamaan

Ketika seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung capsaicin, tubuh akan mengalami peningkatan proses thermogenesis, yaitu pembentukan panas alami di dalam tubuh. Meskipun proses ini memerlukan energi, peningkatan resting metabolic rate yang dihasilkan dari capsaicinoid dan capsinoid diperkirakan hanya sekitar 34 kcal per hari jika dibandingkan dengan kelompok plasebo. Selain itu, studi terbaru pada tahun 2026 menegaskan bahwa efek capsaicin terhadap pengeluaran energi jangka panjang masih sangat terbatas, dengan bukti yang lebih konsisten pada peningkatan oksidasi lemak daripada kenaikan total pengeluaran energi secara keseluruhan.
Di luar konsumsi makanan pedas, pengelolaan berat badan juga berkaitan erat dengan asupan kalori harian secara umum. Kenaikan berat badan, seperti yang kerap terjadi selama bulan puasa, biasanya dipicu oleh jumlah kalori masuk yang lebih besar daripada kalori yang keluar. Konsumsi minuman seperti milk tea secara berlebihan juga dapat meningkatkan berat badan karena kandungan kalorinya yang tinggi. Sebagai alternatif makanan pokok, saat ini terdapat metode memasak nasi yang lebih sehat dan mampu mengurangi kadar kalorinya hingga 60 persen. Bagi yang menghindari gula, pemanis buatan seperti sakarin dan asesulfam K sering digunakan sebagai pengganti, meskipun jenis pemanis ini kerap meninggalkan rasa pahit.
Jay Idzes Pulih dari Cedera, Sassuolo Incar Fedde Leysen jadi Rekan Duet

Selain faktor makanan, kebiasaan tidur dan kesehatan mental turut memegang peranan penting. Penelitian dari Columbia University menunjukkan bahwa kurang tidur selama 90 menit sehari dapat meningkatkan berat badan dan lingkar pinggang. Studi lain dari universitas yang sama juga mengungkapkan bahwa kurang tidur sebanyak 80 menit per malam dapat meningkatkan berat badan serta memicu perilaku sedenter hanya dalam waktu enam minggu. Di sisi lain, diet ekstrem yang memotong asupan kalori secara berlebihan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Oleh karena itu, Ketua PDGKI dr. Erwin Christianto mengimbau masyarakat untuk menangani masalah obesitas sedini mungkin melalui langkah Amati, Ukur, dan Bertindak sebelum muncul komplikasi medis.






