apriniageosat.co.id
BerandaNasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNationalPopuler
Beranda/Politik

Bayang-Bayang ‘Londo Ireng’ di Era Demokrasi, Prabowo dan Metafora yang Membelah Ruang Kritik

Domu TobingDiterbitkan 27 Jul 2026 - 02.20 · 2 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Bayang-Bayang ‘Londo Ireng’ di Era Demokrasi, Prabowo dan Metafora yang Membelah Ruang Kritik
Foto/Ilustrasi: Tempo
A-A+

Sebuah ungkapan dari masa kolonial tiba-tiba menyeruak ke permukaan politik nasional, menciptakan gelombang reaksi yang tak terduga. ‘Londo ireng’ – sebutan bagi pribumi yang dianggap membelot dan lebih memihak kepentingan penjajah Belanda – dilontarkan Presiden Prabowo Subianto untuk menyasar kelompok-kelompok kritis, termasuk jurnalis. Dalam peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center pada Kamis malam, 23 Juli 2026, presiden dengan gamblang menyamakan wartawan, pengamat, dan aktivis LSM sebagai versi modern dari ‘londo ireng’. Metafora yang lahir dari luka sejarah itu kini justru digunakan untuk membaca sikap kritis yang seharusnya menjadi nadi demokrasi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) segera menyuarakan kegeraman. Sekretaris Jenderal AJI Bayu Wardhana menuntut permintaan maaf terbuka dari kepala negara. Menurutnya, label tersebut merupakan tuduhan tak berdasar yang mencoreng integritas profesi jurnalis. “Kami bekerja menyajikan fakta, bukan membela kepentingan asing,” tegas Bayu dalam pernyataan tertulisnya Jumat, 24 Juli 2026. Ia mencontohkan peliputan kasus keracunan menu program makan bergizi gratis – program prioritas pemerintahan Prabowo – yang semata-mata merupakan upaya mengabarkan kebenaran ke publik, bukan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa. Di mata AJI, memberi stigma pengkhianat sama saja dengan membungkam kontrol sosial yang sah.

Baca Juga

Pemerintah Kantongi Komitmen Investasi Asing Ratusan Triliun Rupiah untuk Dorong Lapangan Kerja

Pemerintah Kantongi Komitmen Investasi Asing Ratusan Triliun Rupiah untuk Dorong Lapangan Kerja

Presiden dalam pidatonya tak hanya menyasar jurnalis. Ia menyebut bahwa ‘londo-londo ireng’ masa kini mengenakan baju lain: wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat yang tidak bekerja untuk pemerintah. Kritik tajam juga dialamatkan kepada media yang memberitakan satu sekolah roboh di tengah 67 ribu sekolah yang sudah diperbaiki sepanjang tahun ini. “Dia kira kita enggak ngerti,” ucap Prabowo, menuding media sengaja mencari-cari kekurangan dan membesarkannya di halaman pertama. Meski menyatakan tidak antikritik, presiden menekankan bahwa pemerintah bukan anak kecil yang bisa dipermainkan oleh narasi yang dianggapnya timpang. Pernyataan ini segera memicu perdebatan tentang batas antara mengkritik dan disalahartikan sebagai musuh negara.

Bayu Wardhana menilai ucapan presiden sejajar dengan penghinaan yang pernah dilontarkan pengacara Hotman Paris Hutapea kepada wartawan beberapa waktu lalu – sebuah pola yang berulang dalam merendahkan kerja jurnalistik. Dengan menyamakan pengawas kekuasaan sebagai pengkhianat, pemerintah dinilai sedang membangun tembok psikologis yang bisa mengikis ruang demokrasi. Istilah ‘londo ireng’ sendiri sarat muatan traumatis: ia mengingatkan pada masa ketika pribumi yang bekerja sama dengan kolonial dianggap musuh rakyat. Membawanya ke konteks kekinian tanpa kepekaan historis justru memantik pertanyaan: apakah semua suara yang berbeda kini rawan dicap sebagai musuh?

Baca Juga

Kabinet Prabowo Subianto Diisi Sejumlah Menteri Era Jokowi, Koalisi Sipil Bentuk Kabinet Bayangan

Kabinet Prabowo Subianto Diisi Sejumlah Menteri Era Jokowi, Koalisi Sipil Bentuk Kabinet Bayangan

Alih-alih menyerang para pembawa berita, AJI mengajak presiden membaca kritik sebagai bahan bakar untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan. Kasus menu bergizi gratis yang mengakibatkan keracunan, misalnya, jelas memerlukan solusi, bukan reaksi defensif. Apresiasi terhadap 67 ribu sekolah yang telah direnovasi tentu penting, tetapi penyorotan pada yang belum selesai bukanlah bentuk sabotase. Dalam demokrasi yang sehat, institusi pers dan kelompok kritis adalah cermin yang kadang merefleksikan bagian tergelap sekalipun. Memperbaiki cara berpidato dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, demikian desakan komunitas pers, akan menjadi langkah awal mengembalikan kepercayaan bahwa istana tidak memusuhi kaca spion bangsanya sendiri.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Prabowo Subiantolondo irengkebebasan perskritikAJIjurnalis

Berita Terbaru Lainnya

Perkembangan Regulasi Apple di Indonesia, iPhone 16 Tertunda, iPhone 17e Kantongi Sertifikasi TKDNKelanjutan Kasus Pailit Sritex, Rencana Penyelamatan Ekonomi dan Perkembangan Lelang AsetOtorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi SorotanGagal di Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Alihkan Fokus ke FIFA ASEAN CupKetentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKNBakti Komdigi Optimalkan Satelit Satria-1 Jaga Internet di Sangihe, Talaud, dan SitaroJelang Waisak 2570 BE, Arca Unfinished Buddha Borobudur Dipindahkan ke Lapangan KenariRencana Penerapan Single Salary ASN, Guru Cemas Nasib Tunjangan Sertifikasi

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

🔥

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi · 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional · 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan · 25 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum · 27 Jul 2026
  5. 5Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan · 27 Jul 2026

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap