Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menegaskan komitmen pemerintahannya untuk bekerja tanpa henti dalam menekan jumlah kedatangan migran yang menyeberangi Selat Inggris dengan menggunakan kapal-kapal kecil. Langkah tegas ini diambil di tengah sorotan publik setelah lebih dari 2.000 migran terpantau tiba di wilayah Inggris menggunakan perahu kecil sejak Burnham resmi menjabat sebagai Perdana Menteri sekitar dua pekan lalu.
Sebagai bagian dari strategi penanganan ini, pemerintah Inggris memutuskan untuk melipatgandakan jumlah petugas penegak hukum guna memberantas geng-geng penyelundup manusia di kedua sisi Selat Inggris. Kementerian Dalam Negeri Inggris melaporkan bahwa jumlah personel Badan Kejahatan Nasional (NCA) yang ditugaskan khusus untuk menangani sindikat penyelundupan ini melonjak drastis menjadi hampir 800 petugas, dari yang sebelumnya hanya berjumlah 376 personel pada awal tahun 2025. Selain upaya dari pihak Inggris, Perdana Menteri Burnham juga mengungkapkan bahwa Prancis tengah melakukan langkah serupa dengan melipatgandakan jumlah petugas keamanan mereka di wilayah perbatasan.
Sepanjang tahun lalu, operasi penegakan hukum telah menghasilkan hampir 300 penangkapan terhadap anggota geng penyelundup serta penyitaan lebih dari 1.100 kapal kecil beserta mesinnya. Kementerian Dalam Negeri Inggris mengklaim bahwa seluruh peralatan yang disita tersebut berpotensi mengangkut hingga 72.000 migran ilegal. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa klaim mengenai kapasitas angkut peralatan yang disita ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh BBC.
Hubungan Stres dan GERD, Bagaimana Pikiran Memengaruhi Asam Lambung

Selain penegakan hukum yang ketat, Burnham menekankan pentingnya reformasi sistemik. Menurutnya, pemerintah perlu membangun sebuah sistem yang menyediakan jalur-jalur aman bagi para migran. Langkah ini dinilai krusial untuk menghilangkan daya tarik utama atau nilai jual yang selama ini ditawarkan oleh geng-geng penyelundup manusia kepada para calon migran.
Kebijakan ini memicu reaksi beragam dari kubu oposisi. Menteri Dalam Negeri Bayangan dari Reform UK, Zia Yusuf, mengusulkan langkah ekstrem dengan mengerahkan Angkatan Laut untuk memaksa kapal-kapal migran kembali ke wilayah Prancis. Usulan tersebut langsung ditolak oleh juru bicara Partai Buruh, yang menyebut rencana itu sebagai upaya putus asa untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Bayangan dari Partai Konservatif, Chris Philp, menilai bahwa pemerintahan Partai Buruh sejauh ini belum berhasil memberantas geng penyelundup. Philp mendesak agar Inggris segera keluar dari Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) agar proses deportasi migran ilegal dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu setelah kedatangan mereka.
Meskipun menghadapi tantangan politik, data resmi menunjukkan adanya tren penurunan. Berdasarkan laporan Kementerian Dalam Negeri Inggris, angka penyeberangan menggunakan kapal kecil sejauh ini telah menurun sekitar 43 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Selain itu, data dari Kantor Statistik Nasional (ONS) mencatat bahwa migrasi bersih ke Inggris pada tahun lalu turun menjadi 171.000 orang, yang merupakan level terendah sejak tahun 2012. Di samping penanganan di perbatasan, pemerintah Inggris juga berencana memperketat pengawasan tenaga kerja dengan mewajibkan penggunaan Digital ID bagi seluruh pekerja pada tahun 2029.
Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Isu migrasi ini tidak hanya menjadi perhatian di Inggris, melainkan juga di berbagai wilayah Eropa lainnya. Di perbatasan Melilla, bentrokan sengit sempat pecah antara pasukan keamanan Maroko dan ratusan imigran, yang berujung pada penutupan pos perbatasan Beni Ansar serta penangkapan puluhan orang. Sementara itu, sekitar 48.000 migran dilaporkan mulai meninggalkan wilayah kantong Spanyol di Ceuta setelah negara-negara Uni Eropa memperketat pengawasan perbatasan secara signifikan.
Situasi krisis migran ini juga memicu keprihatinan kemanusiaan global. Paus Leo XIV, dalam penutupan kunjungannya ke Spanyol, menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat bagi para migran di Tenerife serta mengutuk keras praktik perdagangan manusia dan sikap abai dari negara-negara Eropa. Tragedi mematikan juga terus membayangi jalur migrasi, seperti insiden tabrakan antara kapal cepat yang membawa migran dengan kapal Penjaga Pantai Yunani di lepas pantai Pulau Chios yang menewaskan sedikitnya 14 orang.






