Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar pemanis lembar spesifikasi ponsel, melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan harian yang krusial bagi masyarakat Asia Tenggara. Pergeseran paradigma ini terlihat jelas dari melonjaknya tingkat adopsi teknologi tersebut pada perangkat lipat terbaru Samsung. Penggunaan fitur pintar berbasis kecerdasan buatan oleh pemilik Galaxy Z Fold 7 dan Flip 7 di kawasan Asia Tenggara dan Oseania meroket hingga menyentuh angka 96 persen pada tahun 2026, melonjak dari posisi 84 persen pada tahun sebelumnya.
Fenomena ini dipaparkan langsung oleh CU Kim, President & CEO Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, di sela-sela perhelatan Galaxy Unpacked 2026 yang berlangsung di London, Inggris. Menurut Kim, dinamika perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah ekspektasi konsumen secara fundamental. Jika dahulu konsumen melihat kecerdasan buatan sebagai sebuah terobosan baru yang menarik dicoba, kini mereka menuntut teknologi tersebut untuk mampu beradaptasi dan memahami kebutuhan personal mereka secara instan.
Bakti Komdigi Optimalkan Satelit Satria-1 Jaga Internet di Sangihe, Talaud, dan Sitaro

Bagi Samsung, pasar Asia Tenggara dan Oseania memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Wilayah ini didominasi oleh generasi muda yang sangat melek digital sekaligus memiliki latar belakang bahasa yang sangat beragam. Untuk menjawab tantangan tersebut, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini menyediakan dukungan hingga 22 bahasa pada sistem kecerdasan buatan mereka, termasuk Bahasa Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Langkah lokalisasi ini terbukti efektif, dengan fitur Circle to Search, Now Brief, dan Photo Assist menjadi menu favorit pengguna dalam menunjang aktivitas harian mereka. Di Indonesia sendiri, pengguna paling gemar memanfaatkan fitur Circle to Search dan Note Assist untuk mempermudah rutinitas.
Kendati demikian, personalisasi yang optimal tidak hanya bergantung pada aspek pemahaman bahasa semata. Samsung kini mengarahkan fokusnya pada pengembangan ekosistem yang terintegrasi, di mana kecerdasan buatan dapat saling terhubung lintas perangkat鈥攎ulai dari ponsel pintar, perangkat audio nirkabel, hingga peralatan rumah tangga pintar. Guna mewujudkan ekosistem yang mulus ini, Samsung mempererat kemitraannya dengan Google, salah satunya melalui penyematan fitur Automation pada lini Galaxy S26 Series. Di tengah integrasi yang semakin erat ini, aspek keamanan data, transparansi, dan kendali penuh di tangan pengguna tetap menjadi pilar utama yang dijaga oleh Samsung.
Indosat, Ooredoo, Nokia, dan NVIDIA Berkolaborasi Luncurkan Zankore untuk Bangun Infrastruktur AI

Pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna ini rupanya mendapat sambutan hangat dari pasar. Penjualan unit Galaxy Z Fold 7 di Asia Tenggara dan Oseania tercatat mengalami pertumbuhan hampir 50 persen jika dibandingkan dengan pencapaian Galaxy Z Fold 6 pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Keberhasilan komersial ini memperkuat keyakinan Samsung bahwa kehadiran Galaxy Z Fold 7 dan Flip 7 akan terus menjadi katalis utama dalam mempercepat adopsi kecerdasan buatan di tingkat regional, sekaligus membawa era baru interaksi digital yang lebih personal dan bermakna.






