5.000 Mangrove, Hadiah Ulang Tahun ANTAM untuk Ekosistem Pesisir

Uria Anyi ApuiPublished 26 Jul 2026 - 20.45 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
5.000 Mangrove, Hadiah Ulang Tahun ANTAM untuk Ekosistem Pesisir
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Di tengah perayaan 58 tahun perjalanan sebagai perusahaan pertambangan, PT ANTAM Tbk memilih cara yang berbeda untuk meniup lilin: menanam 5.000 bibit mangrove di zona pesisir. Momen ini bergulir bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia yang ditetapkan UNESCO, menjadikan langkah hijau itu sebuah kado ganda—untuk ulang tahun perseroan sekaligus untuk bumi yang kian membutuhkan benteng alami.

Bersama Kementerian Lingkungan Hidup, ribuan bibit itu ditanam dalam rangkaian Gerak Hijau 2026, gerakan lingkungan yang menjadi salah satu napas baru perayaan HUT ANTAM. Untung Budiharto, Direktur Utama ANTAM, menyaksikan langsung prosesi itu bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono. Dalam suasana pesisir yang basah, Untung menyampaikan bahwa proteksi ekosistem mangrove adalah kunci menjaga garis pantai, merawat keragaman hayati, sekaligus memperkuat kapasitas serap karbon nasional. “Kami percaya, melindungi mangrove berarti merawat masa depan Indonesia,” ucapnya, menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan melekat pada seluruh lapisan, bukan hanya pelaku industri ekstraktif. Baginya, kolaborasi yang terbangun di antara korporasi, pemerintah, dan warga adalah fondasi pembangunan yang benar-benar berkelanjutan.

Also Read

Mosaik Teknologi Rel Indonesia, Bukan Sekadar Angkutan, Melainkan Ekosistem yang Melaju

Wakil Menteri Lingkungan Hidup menangkap makna yang sama, namun memperluas cakrawala waktu. Diaz menyebut bahwa jika mangrove tumbuh optimal, manfaatnya tidak berhenti pada hari ini; ia akan menjadi sabuk hijau yang melindungi pemukiman pesisir dari abrasi, menjadi kamar asuh biota laut, dan menyerap emisi karbon hingga puluhan bahkan seratus tahun mendatang. “Manfaatnya lintas generasi,” katanya. Di hadapan peserta yang terdiri dari pegawai ANTAM dan komunitas lokal, Diaz melemparkan harapan agar Gerak Hijau tidak menjadi sekadar seremoni tahunan. Ia mengajak semua pihak mengubah momentum ini menjadi gerakan kolektif yang sederhana namun massif: menanam pohon, mengurangi sampah, menghemat energi, dan mencintai lingkungan setiap hari. Bila setiap orang di negeri ini melakukan satu aksi kecil, ia yakin dampaknya akan setara jutaan tangan yang membentuk ulang wajah Indonesia.

Pemilihan mangrove bukanlah tanpa alasan kuat. Hutan bakau menyimpan potensi karbon biru yang jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis daratan; ia mampu menyimpan karbon di bawah tanah selama ribuan tahun. Di saat yang sama, mangrove merupakan rumah bagi kepiting, ikan, dan burung pantai, serta menjadi tirai hidup yang meredam gelombang pasang. Menanam 5.000 bibit adalah langkah kecil yang jika dikalikan di banyak titik pesisir nusantara, akan menjadi benteng ekologis yang sesungguhnya. Bagi ANTAM, yang identitasnya kerap disematkan pada aktivitas tambang, kehadiran di tengah pesisir bersama Klu ini menjadi sinyal transformatif: bahwa korporasi pertambangan dapat berjalan beriringan dengan regenerasi alam.

Also Read

Batang Dipacu Jadi Shenzhen Indonesia, Fujian Siapkan Investasi Rp37 Triliun

Gerak Hijau 2026 sendiri dirancang bukan hanya sebagai seremonial setahun sekali, melainkan kendaraan untuk menanamkan kebiasaan hijau ke dalam keseharian insan perusahaan. Mulai dari penanaman, pengelolaan limbah, hingga efisiensi energi, rangkaian kegiatan ini diharapkan membentuk DNA keberlanjutan. Dengan menjadikan Hari Mangrove Sedunia sebagai titik tolak, ANTAM seolah sedang menulis ulang narasi pertambangan Indonesia: dari sekadar mengambil kekayaan bumi, menuju menanam kembali kehidupan. Ribuan bibit yang ditancapkan hari itu akan tumbuh menjadi saksi bahwa langkah seribu mil selalu dimulai dari sebuah keputusan—dan kali ini, keputusan itu lahir dari bibir pantai yang mulai dihijaukan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca