100 UMKM Lokal Menjadi Nadi Ekonomi Piala Presiden 2026

Togar PanjaitanPublished 26 Jul 2026 - 08.57 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
100 UMKM Lokal Menjadi Nadi Ekonomi Piala Presiden 2026
Foto/Ilustrasi: news.republika.co.id.
A-A+

Laga pembuka Piala Presiden 2026 belum lagi bergulir, tetapi gelombang semangat sudah memuncak dan tiket sebanyak 24.000 lembar ludes tak bersisa. Di balik ingar-bingar persiapan akhir, terdapat sebuah dimensi ekonomi yang sengaja ditanam sejak awal: seratus usaha mikro, kecil, dan menengah dari Kabupaten Bandung dan Kota Surabaya disiapkan untuk menjadi bagian hidup dari ekosistem turnamen. Kehadiran mereka bukan pelengkap seremonial, melainkan denyut yang mendekatkan sepak bola dengan keseharian warga.

Keterlibatan para pelaku usaha itu mengalir di dua kota penyelenggara, mencakup beragam produk dan jasa yang akan mewarnai kawasan pertandingan. Panitia tidak sekadar membuka pendaftaran massal, tetapi menerapkan proses kurasi yang lebih ketat agar UMKM yang terpilih benar-benar siap menopang pengalaman penonton. Dengan cara ini, setiap gerobak, stan, dan lapak akan memperkuat rantai nilai acara, mulai dari kuliner khas, suvenir kreatif, hingga jasa pendukung lainnya yang membuat atmosfer stadion terasa lebih merakyat.

Ketua Pelaksana Turnamen, Tsamara Amany, mengungkapkan bahwa UMKM yang dilibatkan dikelompokkan ke dalam tiga kategori sebagai dasar seleksi. Kategori pertama adalah pelaku usaha lokal yang sudah cukup dikenal, memiliki basis pelanggan, dan mampu menjamin kualitas secara konsisten. Kategori kedua merupakan usaha yang sedang naik kelas dan membutuhkan panggung lebih luas untuk memperbesar daya saing. Adapun kategori ketiga menyasar UMKM baru yang sedang berkembang dan diberi kesempatan belajar langsung dalam hajat besar seperti turnamen pramusim ini. “Tiga kategori tersebut menjadi dasar kami dalam memilih UMKM yang terlibat,” jelasnya.

Also Read

Warga Sentani Barat Serbu Layanan Cek Kesehatan Gratis, Ibu Hamil Dapat Perhatian Khusus

Pembagian jenjang itu menunjukkan bahwa panitia tidak hanya mengejar angka partisipasi, melainkan merancang jalur pertumbuhan usaha secara bertahap. Pendekatan ini sejalan dengan visi awal penyelenggaraan, yang memang menempatkan Piala Presiden sebagai panggung olahraga yang berpihak pada penguatan ekonomi masyarakat. Setiap pertandingan diharapkan menjadi lorong distribusi bagi produk-produk lokal sekaligus etalase keberagaman daerah tuan rumah, dari sekoteng modern khas Bandung hingga kreasi kulit dan batik asal Surabaya yang merambah aksesori suporter.

Di sisi teknis, persiapan laga bukan cuma menyentuh area komersial. Panitia telah menggandeng unsur keamanan sipil, para steward, serta aparat TNI dan Polri guna menjamin ketertiban di dalam dan di luar stadion. Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan turut menyokong agar gelaran berjalan lancar. Kolaborasi ini melengkapi antusiasme tinggi penonton yang sudah menunjukkan kepercayaannya lewat penjualan tiket yang habis sebelum peluit pertama dibunyikan. Momen langka itu menjadi sinyal bahwa masyarakat merindukan kembalinya turnamen yang merangkul banyak pihak.

Also Read

Kantor Bupati Malinau Disulap Jadi Panggung Keceriaan Seribu Anak dari 44 Gereja

Dengan fondasi 100 UMKM sebagai salah satu tulang punggung, Piala Presiden 2026 mencoba membuktikan bahwa si kulit bundar dapat menjadi katalis ekonomi kerakyatan yang konkret. Stadion tidak lagi hanya ruang dua babak, melainkan juga pasar yang menghidupkan mimpi-mimpi kecil tetangga. Ketika tribun bergemuruh dan lapangan menyita perhatian, di luarnya para pelaku usaha ikut mengukir kemenangannya sendiri.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca