Pemandangan di depan beberapa pusat perbelanjaan di Kota Surabaya belakangan ini tampak berbeda seiring dengan berdirinya pagar-pagar pembatas baru yang menjulang cukup tinggi. Fenomena pemasangan pagar di area depan gedung mal ini mendadak ramai menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet di media sosial. Menanggapi perkembangan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta kepada pihak pengelola mal untuk tidak meninggikan pagar mereka demi menjaga keindahan dan kenyamanan lanskap kota.
Langkah pembangunan pagar pembatas ini terpantau dilakukan oleh beberapa pusat perbelanjaan di bawah pengelolaan Pakuwon Group di Surabaya. Beberapa mal yang mulai membangun pagar di sekeliling areanya meliputi Pakuwon Mall yang terletak di Surabaya Barat, Royal Plaza di Surabaya Selatan, Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, serta Tunjungan Plaza di wilayah Surabaya Pusat. Selain di Kota Pahlawan, fenomena pemasangan pagar tinggi di depan pusat perbelanjaan ini dilaporkan juga terlihat di Mal Kota Kasablanka yang berlokasi di Jakarta.
Visualisasi pagar yang dibangun di setiap mal memiliki karakteristik tersendiri. Di Pakuwon Mall, saat ini sudah terpasang pagar setinggi sekitar 2,5 meter yang terbuat dari bahan besi model palisade berwarna hijau dengan ujung yang meruncing. Sementara itu, di Royal Plaza, proyek pembangunan pagar yang mengombinasikan material beton dan besi runcing masih terus berjalan. Beberapa kolom pagar di Royal Plaza yang diperkirakan memiliki tinggi sekitar 3 meter terpantau sudah terpasang di lokasi.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Pihak pengelola mal menegaskan bahwa pembangunan pagar ini sama sekali tidak berkaitan dengan isu kelesuan ekonomi maupun antisipasi terhadap situasi sosial-politik tertentu di tanah air. Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, membantah spekulasi tersebut dan menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia maupun bisnis retail Pakuwon Group justru sedang tumbuh dengan baik sepanjang semester pertama 2026. Sebagai perusahaan terbuka (Tbk), ia mempersilakan publik untuk mengecek laporan keuangan resmi yang telah dibuat oleh perusahaan. Sutandi menegaskan bahwa pemasangan pagar tersebut murni ditujukan untuk faktor keamanan dan keselamatan pengunjung, bukan untuk mengantisipasi adanya aksi massa.
Meskipun demikian, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memiliki pandangan tersendiri mengenai penataan kota. Eri menilai keberadaan pagar yang terlalu tinggi justru dapat merusak estetika dan keindahan arsitektur bangunan mal. Ia menegaskan bahwa Surabaya merupakan kota yang aman, sehingga masyarakat maupun pengelola usaha tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan. Oleh karena itu, Eri memberikan klarifikasi bahwa ia tidak meminta pihak pengelola untuk membongkar pagar tersebut secara keseluruhan, melainkan hanya menurunkan ketinggiannya agar lebih serasi dengan lingkungan sekitar. Menurut pantauannya, sejauh ini hanya ada sekitar dua atau tiga mal saja di Surabaya yang memasang pagar dengan ukuran tinggi seperti itu.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Di sisi lain, kekhawatiran pengelola mal terkait keselamatan pengunjung memang didasari oleh kondisi arus lalu lintas di sekitar area perbelanjaan. Sebagai contoh, para pengunjung yang masuk dan keluar dari Tunjungan Plaza sering kali menyeberang jalan secara sembarangan ketika melewati Jalan Basuki Rahmat. Guna mengatasi kerawanan tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya sebenarnya telah mengambil langkah antisipasi dengan memasang barrier atau pembatas beton di sepanjang Jalan Basuki Rahmat. Pihak Dishub sengaja memilih pembatas berbahan beton karena pembatas berbahan plastik dinilai sangat mudah digeser oleh pejalan kaki, yang pada akhirnya dapat membahayakan keselamatan para pengendara kendaraan bermotor yang melintas di kawasan tersebut.






