Republik Demokratik Kongo (DRC) kini tengah berkejaran dengan waktu menghadapi penyebaran virus Ebola tercepat dalam sejarah. Hanya dalam waktu lima hari, jumlah korban jiwa akibat wabah ini melonjak drastis hingga melewati angka 1.354 orang. Keadaan semakin genting karena varian virus yang menyerang adalah Bundibugyo, salah satu jenis Ebola paling langka yang hingga saat ini belum memiliki vaksin atau metode pengobatan resmi yang disetujui. Tanpa adanya penangkal medis yang siap pakai, virus mematikan ini menyebar dengan sangat cepat, melumpuhkan komunitas demi komunitas di wilayah timur negara tersebut.
Krisis kesehatan ini diperparah oleh konflik bersenjata yang terus berkecamuk di DRC, yang secara langsung menghambat penanganan medis di lapangan. Para tenaga kesehatan yang berada di garis depan tidak hanya menghadapi risiko tertular virus, tetapi juga harus bekerja di tengah ancaman keamanan dan minimnya alat pelindung diri. Situasi semakin memburuk setelah gelombang aksi mogok kerja meluas di sejumlah fasilitas kesehatan penting, termasuk di Rumah Sakit Umum Rwampara dan Pusat Penanganan Ebola Elikya di Bunia. Para dokter dan perawat menuntut pembayaran bonus mereka yang tertunda, sementara pasien terus berjatuhan di dalam pusat perawatan yang kini kekurangan staf.








