Pesisir selatan Kabupaten Malang kini menjelma menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan hidup penyu dunia. Di Pantai Bajulmati dan Modangan, Desa Gajahrejo, riak ombak Samudra Hindia menjadi saksi bisu kembalinya satwa purba ini untuk bertelur. Sejak tahun 2020, wilayah pesisir ini telah diidentifikasi sebagai lokasi pendaratan alami bagi lima dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia. Kehadiran mereka di kawasan ini memicu sebuah gerakan konservasi kolaboratif yang tidak hanya bertujuan menyelamatkan telur penyu dari berbagai ancaman, tetapi juga memulihkan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Melalui inisiatif bertajuk program Ibu Kota Penyu yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga, upaya penyelamatan satwa laut ini membuahkan hasil yang signifikan. Berdasarkan data dari Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), sepanjang periode tahun 2024 hingga 2025, program ini telah berhasil menyelamatkan dan menetaskan 19.102 butir telur penyu. Dari jumlah tersebut, lebih dari 14.000 tukik atau anak penyu telah berhasil dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di laut lepas. Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi upaya menjaga populasi penyu global yang kian terancam punah.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Langkah konkret pelestarian ini kembali ditegaskan melalui aksi nyata bertajuk 'Singgah di Samudra'. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi interaktif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk peduli pada kelestarian laut. Dalam aksi terbaru ini, sebanyak 1.500 ekor tukik jenis lekang serta satu ekor penyu lekang dewasa yang telah rampung menjalani masa rehabilitasi dilepasliarkan ke laut bebas. Prosesi pelepasan satwa ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mengembalikan keseimbangan ekologi laut yang sempat terganggu.
Gerakan penyelamatan lingkungan ini tidak berjalan sendiri. Sekitar 200 peserta yang terdiri dari perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Perhutani, Pemerintah Desa Gajahrejo, serta komunitas peduli lingkungan dan warga setempat turut ambil bagian. Selain melepasliarkan satwa, rangkaian acara juga diisi dengan program edukasi seperti Sekolah Alam Pesisir, pameran diorama kreatif yang memanfaatkan limbah kertas, dan aktivitas reflektif bertema 'Titip Cerita untuk Samudra'. Melalui pendekatan ini, edukasi lingkungan ditanamkan sejak dini kepada generasi muda di wilayah pesisir.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa program keterlibatan masyarakat ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga wilayah pesisir. Ia berharap setiap peserta yang terlibat dapat membawa pulang pengalaman berharga dan menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian penyu Indonesia. Lebih lanjut, Kitty menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam hal menjaga ekosistem laut dan melibatkan masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.






