Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,3 dilaporkan mengguncang wilayah Jawa Barat pada Rabu (5/8) malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa gempa bumi tersebut terjadi di laut, tepatnya sekitar 79 kilometer di arah barat daya dari Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Peristiwa alam ini terjadi tepat pada pukul 21.55 WIB. BMKG juga segera menyampaikan konfirmasi bahwa gempa yang mengguncang wilayah pesisir selatan ini tidak memiliki potensi untuk menimbulkan tsunami. Meskipun demikian, getaran dari gempa bumi tektonik ini dilaporkan terasa cukup luas oleh masyarakat, bahkan hingga menjangkau wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sukabumi.
Setelah melakukan analisis lebih lanjut, BMKG mengeluarkan data pemutakhiran mengenai parameter gempa bumi tersebut. Hasil analisis terbaru dari BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki parameter update dengan kekuatan magnitudo M5,2. Kedalaman pusat gempa tersebut tercatat berada pada kedalaman 14 kilometer. Selain itu, BMKG juga merilis titik koordinat episenter gempa bumi yang terletak pada koordinat 8,17掳 Lintang Selatan (LS) dan 107,86掳 Bujur Timur (BT). Secara presisi, lokasi episenter ini berada di laut pada jarak 87 kilometer arah barat daya dari Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Berdasarkan kedalaman pusat gempanya, BMKG menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal. Gempa bumi dangkal ini terjadi karena adanya aktivitas di sesar aktif yang berada di kawasan tersebut. Informasi mengenai penyebab gempa bumi ini dikonfirmasi langsung oleh Wijayanto, yang menjabat sebagai Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Dampak guncangan dari gempa bumi di Pangandaran ini dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Di wilayah Kabupaten Bandung, gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Beberapa daerah di Kabupaten Bandung yang merasakan guncangan pada skala III MMI tersebut meliputi Kecamatan Arjasari, Kertasari, Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Nagrak, dan Solokanjeruk. Skala intensitas III MMI ini memiliki arti bahwa getaran gempa dirasakan secara nyata oleh warga di dalam rumah, di mana getaran yang muncul terasa seakan-akan ada sebuah truk yang sedang berlalu.
Selain wilayah-wilayah tersebut, wilayah lain juga melaporkan adanya guncangan gempa dengan skala intensitas yang bervariasi. Skala intensitas II-III MMI dirasakan oleh masyarakat di Soreang, Pangalengan, dan Ciwidey. Getaran dengan skala II-III MMI ini juga dilaporkan terasa di wilayah Kabupaten Sukabumi serta Kota Sukabumi. Di sisi lain, terdapat pula wilayah yang merasakan guncangan dengan skala intensitas II MMI. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Sumedang, Parongpong, Cihanjuang, Ngamprah, Lembang, dan Pelabuhan Ratu. Berdasarkan definisi BMKG, skala intensitas II MMI berarti getaran gempa dirasakan oleh beberapa orang dan menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Setelah terjadinya gempa bumi utama tersebut, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan di lokasi sekitar episenter. Hingga pukul 22.30 WIB, hasil monitoring yang dilakukan oleh BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock. Berdasarkan pemantauan tersebut, tercatat telah terjadi satu kali aktivitas gempa bumi susulan dengan kekuatan magnitudo sebesar M2,2.






