Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, telah mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi wilayah tersebut. Berdasarkan data terbaru yang dirilis, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi ini dilaporkan bertambah hingga mencapai 71 orang. Peningkatan jumlah korban jiwa ini menjadi perhatian penting dalam penanganan dampak bencana di kawasan Laut Flores dan sekitarnya.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berto Panjaitan, mengonfirmasi mengenai perkembangan data korban meninggal dunia ini. Menurut penjelasannya, tambahan korban meninggal dunia yang paling baru tercatat berada di Kabupaten Nagekeo. BNPB terus melakukan pemantauan situasi di lapangan serta memperbarui data korban secara berkala agar penanganan dampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur ini dapat berjalan dengan baik.
Persaingan Bisnis Logistik E-Commerce Indonesia Makin Ketat

Selain korban meninggal dunia, bencana gempa bumi ini juga berdampak pada banyaknya warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. BNPB mencatat bahwa jumlah pengungsi akibat gempa di NTT saat ini telah mencapai 59.647 orang. Dari seluruh wilayah yang terdampak, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi paling banyak, yakni mencapai 20.334 orang. Banyak warga yang mengungsi memilih untuk tersebar di beberapa titik lokasi yang letaknya dekat dengan rumah mereka masing-masing. Warga mengambil keputusan untuk tetap berada di dekat rumah mereka dengan alasan untuk menjaga keamanan harta benda serta hewan ternak yang mereka pelihara.
Dari aspek seismologi, BMKG memberikan rincian bahwa gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat di wilayah laut. Pusat gempa ini terletak di sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo dengan kedalaman pusat gempa mencapai 15 kilometer. BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan setelah gempa utama tersebut terjadi. Hingga hari Rabu pukul 14.00 WIB, BMKG telah merekam sebanyak 3.002 gempa susulan dengan magnitudo yang berkisar antara 1,1 hingga 6,2. Dari ribuan gempa susulan yang tercatat tersebut, sebanyak 86 gempa susulan dirasakan secara langsung oleh masyarakat, termasuk di dalamnya 25 kejadian gempa susulan dengan magnitudo 5 atau lebih.
Tak Cuma di Muara Enim, KPK Temukan Dugaan Sulap Laporan BPK di 2 Wilayah Ini

Di tengah situasi darurat ini, BNPB juga memberikan peringatan penting bagi masyarakat luas mengenai bahaya penyebaran berita bohong. BNPB mengingatkan bahwa penyebaran hoaks pascabencana dapat memicu kepanikan di kalangan warga. Selain menimbulkan rasa panik, penyebaran informasi hoaks juga diperingatkan dapat mengganggu kelancaran proses penanganan para pengungsi serta menghambat kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan yang sedang dikirimkan ke lokasi-lokasi terdampak.






