Pemerintah Amerika Serikat berencana menghentikan bantuan militer dan keamanan kepada sekutu utamanya di Timur Tengah yang sebelumnya membantu menumpas kelompok ISIS. Departemen Pertahanan AS telah memberitahukan rencana tersebut kepada para pemimpin di wilayah semi-otonom Kurdistan Irak.
Langkah ini diambil menyusul keputusan Pentagon untuk tidak memperpanjang nota kesepahaman (MoU) bantuan keamanan yang akan berakhir pada 30 September 2026. Kebijakan Trump setop kucuran dana keamanan untuk pasukan sekutu di Irak ini mencakup penghentian alokasi anggaran militer sebesar 61 juta Dolar AS.
Penghentian bantuan tersebut bertepatan dengan rencana penarikan penuh pasukan koalisi dari Irak. Pangkalan militer terakhir Amerika Serikat yang berlokasi di Irbil bahkan dijadwalkan tutup secara resmi pada bulan depan.
Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa Pasukan Keamanan Irak, termasuk unit Peshmerga yang menjadi sekutu kunci dalam mengalahkan ISIS, kini dinilai telah mampu memimpin operasi keamanan secara mandiri. Fokus utama Washington saat ini adalah menyelesaikan proses penarikan pasukan serta mendukung Pemerintah Irak di bawah Perdana Menteri Ali al-Zaidi.
Kongres III Iwakum Tetapkan Kembali Irfan Kamil Sebagai Ketua Umum Periode 2026–2028

Kendati demikian, pejabat pertahanan AS dilaporkan masih mengkaji skema kerja sama keamanan bilateral baru dengan Baghdad. Skema baru ini disiapkan untuk memastikan stabilitas kawasan tetap terjaga pasca-1 Oktober 2026.
Ancaman Serangan dan Ketegangan dengan Iran
Penghentian bantuan militer ini terjadi di tengah situasi keamanan yang rentan. Wilayah Kurdistan Irak saat ini menghadapi peningkatan intensitas serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) dari pihak Iran.
Ketegangan tersebut kian memuncak setelah kantor Perdana Menteri Kurdistan Irak, Masrour Barzani, diserang oleh dua drone yang diduga berasal dari Iran. PM Masrour Barzani menuduh Iran berada di balik serangan tersebut, namun pihak Teheran membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai operasi bendera palsu (false flag).
Krisis Anggaran AS dan Diplomasi Regional
Di tingkat regional yang lebih luas, Washington juga tengah menghadapi tantangan berat. Angkatan Laut AS saat ini mengalami krisis anggaran yang parah akibat perang di Iran, yang menyebabkan amunisi menipis dan kas mengering. Situasi ini memaksa Gedung Putih untuk mendesak Kongres agar segera mengucurkan dana darurat.
Trump Isyaratkan Sanksi Bank China yang Bantu Iran Jelang Kunjungan Xi Jinping ke AS

Guna mencegah konflik semakin meluas, pada 28 Agustus 2026, AS memperingatkan Israel untuk tidak menyerang Iran dan meminta semua pihak menjaga de-eskalasi di Suriah. Washington lebih memilih untuk memperketat sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Langkah ekonomi tersebut direspons keras oleh Iran. Teheran mengancam akan membalas negara mana pun yang bergabung dalam perang ekonomi AS, serta memperingatkan adanya ancaman terhadap jalur ekspor minyak di kawasan Teluk. Di sisi lain, Iran dan Oman dilaporkan telah membahas pembentukan koridor navigasi sementara dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
Sementara itu, di tengah berbagai dinamika kebijakan luar negeri ini, Presiden AS Donald Trump juga mengambil langkah drastis di sektor lain. Menyusul kegagalan negosiasi dagang, Trump resmi menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi Lake America.






