WASHINGTON – Hubungan Amerika Serikat dan China kembali diuji menjelang kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke AS. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa Washington dapat menjatuhkan sanksi kepada bank-bank China yang dinilai membantu Iran menghindari sanksi AS.
Ancaman ini muncul di tengah persiapan kunjungan Xi Jinping ke AS dalam beberapa pekan mendatang. Sebelumnya, Duta Besar AS untuk China David Perdue telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi beserta pejabat lainnya untuk membahas persiapan kunjungan tersebut.
Ketika ditanya mengenai potensi sanksi tersebut, Trump enggan membeberkan secara detail. "Saya tidak harus mengumumkan semuanya," ujarnya.
Kepala Badan Gizi Nasional Temui Menkeu, Bahas Rencana Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp240 Triliun

Kampanye Tekanan Ekonomi AS
Langkah ini merupakan bagian dari kampanye tekanan ekonomi AS terhadap Iran, yang disebut Trump sebagai "economic D-Day". Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya juga memperingatkan bahwa bank-bank China yang membantu Iran menjual minyak dan mengonversi hasilnya dapat menjadi sasaran sanksi Washington.
Merespons ancaman tersebut, pemerintah China menyatakan akan mengambil "semua langkah yang diperlukan" untuk melindungi kepentingannya.
Dilema Sektor Keuangan dan Pandangan Analis
Ancaman sanksi ini memicu dilema bagi sektor bisnis di China. Han Shen Lin, Managing Director China di The Asia Group dan mantan eksekutif Wells Fargo Bank di China, menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan China menghadapi situasi rumit. Mereka harus berhadapan dengan aturan bank asing yang tunduk pada hukum AS, sementara di dalam negeri, hukum Beijing tetap menjadi prioritas utama.
Subsidi Energi Masih Berbasis Komoditas, Begini Bahayanya Bagi RI

Meski demikian, sejumlah analis menilai ketegangan ini tidak akan merusak hubungan bilateral secara keseluruhan. Ryan Hass, Direktur China Center sekaligus Chair in Taiwan Studies di Brookings Institution, berpendapat bahwa Beijing kemungkinan melihat ancaman sanksi terbaru ini lebih bersifat simbolis. Hass juga meyakini gencatan senjata perdagangan (trade truce) antara kedua negara masih akan bertahan.
Sementara itu, peneliti pascadoktoral di Center for International Security and Strategy (CISS) Tsinghua University, Jodie Wen, menilai bahwa pertemuan antara Trump dan Xi pada Mei lalu menunjukkan adanya pergeseran hubungan ke arah "persaingan terkendali".






