Tragedi runtuhnya Sampoong Department Store di Korea Selatan pada 29 Juni 1995 tetap tercatat sebagai salah satu bencana struktural paling mematikan dalam sejarah modern. Gedung yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan terbesar di negara tersebut hancur total dalam hitungan detik. Peristiwa tragis ini menyebabkan sekitar 1.500 pengunjung terjebak di bawah reruntuhan beton. Upaya penyelamatan yang dilakukan setelah bencana berhasil mengevakuasi ratusan korban, namun sebanyak 502 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara enam korban lainnya tidak pernah ditemukan.
Akar masalah dari kehancuran ini bermula sejak masa konstruksi pada tahun 1987. Gedung megah tersebut didirikan di atas lahan bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Karakteristik lahan bekas pembuangan dinilai tidak cukup stabil untuk menopang struktur pusat perbelanjaan yang besar dan berat. Sebelum pembangunan berjalan jauh, pihak kontraktor awal telah memperingatkan pemilik proyek mengenai risiko tinggi ini. Mereka menyarankan agar lahan tersebut digunakan untuk membangun kompleks apartemen dengan struktur beton yang jauh lebih kuat demi menjamin keamanan. Namun, pemilik Sampoong Department Store, Lee Joon, menolak mentah-mentah usulan tersebut karena tetap menginginkan sebuah pusat perbelanjaan. Ketika kontraktor pertama menolak rancangan desain tersebut atas dasar keselamatan, Lee Joon memutuskan untuk memecat mereka dan menggantinya dengan kontraktor lain yang bersedia mengikuti kemauannya.








