Upaya Reza Pahlavi untuk memimpin masa transisi di Iran apabila pemerintahan Republik Islam runtuh tampaknya tidak berjalan mulus, terutama dalam hal dukungan dari sekutu internasionalnya. Pahlavi, yang merupakan putra dari Shah Iran terakhir yang digulingkan dalam peristiwa Revolusi 1979, hingga kini belum mendapatkan dukungan resmi dari Washington untuk mewujudkan ambisinya tersebut. Padahal, ia telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya di luar negeri demi menggalang kekuatan politik.
Pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump secara berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menyokong Pahlavi sebagai calon pemimpin baru Iran. Sikap ini dipertegas oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat tidak pernah menetapkan tujuan untuk menjadikan Reza Pahlavi sebagai pemimpin baru di negara tersebut. Alih-alih mengupayakan pergantian rezim, pemerintahan Trump saat ini lebih memilih untuk membuka keran negosiasi dengan pemerintah Iran yang tengah berkuasa. Kebijakan ini juga tecermin dalam kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sama sekali tidak mencantumkan agenda perubahan rezim.
Meskipun tidak mendapat restu politik dari Gedung Putih, Pahlavi yang telah hidup di pengasingan selama hampir lima dekade tetap menyuarakan optimisme. Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Reuters, ia meyakini bahwa pemerintahan Iran saat ini sudah berada di ambang keruntuhan. Bagi Pahlavi, kampanye untuk membebaskan tanah airnya telah menjadi misi hidup yang ia jalani selama 46 tahun terakhir. Ia juga mengklaim telah membangun komunikasi dengan lebih dari seribu kelompok di Iran, yang meliputi kalangan pekerja, akademisi, tokoh agama, hingga organisasi berbasis etnis. Langkah politiknya ini sempat mendapat sambutan hangat dari kalangan konservatif saat ia menghadiri ajang Conservative Political Action Conference (CPAC) di Texas.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Namun, di balik optimisme tersebut, hubungan Pahlavi dengan para penyokong dana dan pendukungnya kini diwarnai ketegangan. Para donor yang sebelumnya telah menggelontorkan dana lebih dari 3 juta dolar AS atau sekitar Rp54 miliar (dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS) untuk mendukung gerakannya mulai menyatakan kekecewaan. Salah satu pemicu kekecewaan tersebut adalah sikap Pahlavi yang dinilai lambat dalam mengecam pernyataan keras Donald Trump. Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman untuk menghancurkan Iran hingga kembali ke Zaman Batu, sebuah pernyataan yang memicu kekhawatiran besar di kalangan oposisi Iran.
Selain masalah respons terhadap ancaman luar, para penyandang dana juga menilai Pahlavi belum berhasil menyatukan berbagai faksi dalam kelompok oposisi. Ia juga menghadapi kritik tajam karena dinilai kurang tegas dalam mengecam tindakan intimidasi serta kekerasan yang dilakukan oleh sebagian pendukung garis kerasnya terhadap sesama aktivis oposisi. Terhadap tuduhan tersebut, Pahlavi membantah bahwa dirinya membiarkan tindakan kekerasan para pendukungnya. Ia menegaskan bahwa dirinya mengutuk keras segala bentuk kekerasan dari pihak mana pun.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Terkait masa depan negaranya, Pahlavi berpendapat bahwa pemerintah asing tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin alternatif bagi Iran. Menurutnya, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran sendiri. Ia juga menambahkan bahwa jika ada tindakan militer yang terpaksa dilakukan di masa mendatang, sasaran utama serangan harus difokuskan pada rezim yang berkuasa saat ini, bukan pada infrastruktur sipil yang dapat merugikan masyarakat umum.






