Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, melakukan kunjungan kerja langsung dalam agenda Management Walkthrough ke Terminal LPG Tanjung Sekong yang berlokasi di Cilegon, Provinsi Banten, pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Peninjauan ini bertujuan untuk memantau secara langsung kesiapan operasional serta keandalan infrastruktur energi yang sangat strategis tersebut. Sebagai fasilitas yang memegang status sebagai Objek Vital Nasional, terminal ini memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ketahanan energi karena memasok sekitar 35 hingga 40 persen dari total kebutuhan LPG nasional secara keseluruhan.
Sejarah operasional Terminal LPG Tanjung Sekong sendiri dimulai sejak tahun 2012 lalu. Fasilitas vital ini dibangun di atas lahan yang membentang seluas 12,9 hektare di kawasan pesisir Cilegon. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan bakar gas yang terus tumbuh dari tahun ke tahun, Pertamina melakukan langkah modernisasi besar-besaran. Pada tahun 2020, status dan teknologi dari fasilitas ini resmi ditingkatkan menjadi Terminal LPG Refrigerated guna mengoptimalkan proses penyimpanan serta penyaluran gas cair dalam skala yang jauh lebih besar.
Kini, dengan status sebagai Terminal LPG Refrigerated, infrastruktur ini memiliki kapasitas penyimpanan yang sangat besar, mencapai angka 98.000 metrik ton (MT). Untuk mendukung kegiatan logistik laut yang super sibuk, terminal ini ditopang oleh fasilitas tiga dermaga aktif yang mampu menampung kapal-kapal tanker dengan kapasitas berkisar antara 3.500 hingga 65.000 DWT. Berkat dukungan sarana dan prasarana yang lengkap ini, Terminal LPG Tanjung Sekong mencatatkan volume penyaluran atau throughput yang luar biasa, yakni melampaui 200.000 MT per bulan, menjadikannya salah satu hub LPG terbesar di seluruh Indonesia.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Distribusi energi dari terminal ini mencakup wilayah geografis yang sangat luas dan padat. Tercatat, Terminal LPG Tanjung Sekong melayani kebutuhan energi untuk 63 kabupaten dan kota yang tersebar di tiga provinsi utama, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga menyeberang ke Sumatera Selatan. Guna menjamin pasokan gas ke puluhan daerah tersebut tidak mengalami kendala atau keterlambatan, terminal strategis ini beroperasi penuh selama 24 jam sehari. Operasional tanpa henti ini menjadikannya sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas pasokan energi bagi jutaan rumah tangga dan pelaku usaha di wilayah tersebut.
Seiring dengan perkembangan teknologi industri energi, PT Pertamina (Persero) terus mendorong peningkatan efisiensi kerja di Terminal LPG Tanjung Sekong. Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah melalui implementasi digitalisasi rantai pasok secara menyeluruh. Program digitalisasi ini meliputi sistem pemantauan ketersediaan stok LPG secara real-time atau seketika, serta optimalisasi pengaturan waktu sandar kapal tanker di dermaga agar proses bongkar muat dapat berjalan lebih cepat dan presisi.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Di samping fokus pada keandalan pasokan dan efisiensi rantai distribusi, pengelola Terminal LPG Tanjung Sekong juga mulai menaruh perhatian besar pada aspek keberlanjutan lingkungan. Dalam keterangannya, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa terminal ini sedang menjajaki peluang pemanfaatan energi rendah emisi untuk mendukung seluruh aktivitas operasional di lapangan. Langkah penjajakan ini diharapkan dapat mengurangi jejak karbon operasional terminal sekaligus menjadi model bagi pengelolaan infrastruktur energi masa depan yang lebih ramah lingkungan namun tetap andal.






