Sistem kemitraan kurir paket di Indonesia menyimpan berbagai tantangan berat di lapangan, mulai dari potongan pendapatan hingga sanksi penangguhan akun (suspend) yang dinilai memberatkan. Para kurir sering kali dihadapkan pada dilema antara menyelesaikan pesanan yang tidak sesuai kapasitas kendaraan atau menghadapi sanksi penalti dari sistem aplikasi. Sanksi ini bervariasi dari peringatan ringan hingga pemutusan kemitraan secara sepihak.
Salah satu dampak nyata dari sistem pelanggaran ini dialami oleh Nendra, seorang kurir yang biasa mengantarkan sekitar 10 hingga 20 pesanan dalam sehari. Dalam sistem aplikasi yang ia gunakan, poin pelanggaran dibagi menjadi beberapa tingkatan. Pelanggaran ringan akan mendapatkan peringatan tertulis, pelanggaran tingkat menengah berujung pada pembekuan akun atau suspend selama beberapa jam, sementara pelanggaran berat dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kemitraan. Nendra sendiri pernah mengalami pembekuan akun selama satu jam setelah membatalkan pesanan karena restoran tujuan tidak ditemukan dan koordinat peta (Maps pin) tidak akurat.








