Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada bulan Oktober lalu tampaknya kian rapuh di Jalur Gaza. Eskalasi terbaru kembali membara setelah serangan udara militer Israel menghantam sebuah kendaraan di kawasan Deir Al-Balah, Gaza tengah, pada Minggu, 26 Juli 2026. Insiden tersebut menewaskan Kolonel Wael El-Ledawi, sosok penting yang menjabat sebagai kepala dinas keamanan internal Hamas di wilayah tengah Gaza. Tidak sendirian, ia gugur bersama rekannya, Mayor Ramez Abu Zraiq, saat melintasi jalur tersebut.
Pihak militer Israel segera mengonfirmasi bahwa mereka memang melancarkan serangan udara yang menyasar anggota Hamas, kendati enggan membeberkan rincian operasi intelijen tersebut secara mendalam. Dalam beberapa bulan terakhir, militer Israel secara sistematis terus membidik dan melumpuhkan puluhan personel kepolisian yang berada di bawah kendali Hamas. Tel Aviv berulang kali menuduh para pejabat keamanan sipil ini sebenarnya terintegrasi dengan sayap bersenjata Hamas, yang mereka klaim sebagai ancaman nyata bagi keselamatan pasukan Israel yang beroperasi di dalam kantong wilayah tersebut. Tindakan ini memicu kekhawatiran akan hilangnya otoritas sipil yang tersisa di kawasan konflik tersebut.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Di sisi lain, kubu Hamas menolak keras tuduhan tersebut dan memandang aksi pembunuhan bertarget ini sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan ketertiban sosial. Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas, serangan konstan terhadap aparat kepolisian dan fasilitas keamanan lokal sengaja dirancang untuk menciptakan kekacauan serta anarki di tengah masyarakat Gaza. Selain itu, mereka menegaskan bahwa aksi militer sepihak ini merupakan pelanggaran nyata terhadap poin-poin kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Meskipun status gencatan senjata secara teoritis menghentikan konfrontasi militer skala penuh, realitas di lapangan menunjukkan potret yang jauh berbeda. Data dari otoritas kesehatan di Gaza mencatat bahwa sejak kesepakatan damai tersebut diberlakukan, lebih dari 1.190 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat gempuran harian Israel, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil. Di kubu seberang, ketegangan yang belum mereda ini juga telah merenggut nyawa empat tentara Israel yang tewas dalam pertempuran dengan kelompok militan di Gaza pada periode yang sama.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Kini, sekitar 64 persen wilayah Gaza berada di bawah kendali efektif militer Israel, menyusul kehancuran masif akibat kampanye militer yang berlangsung selama dua tahun pasca-serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 2023. Lanskap geografis yang menyusut memaksa hampir seluruh populasi Gaza yang berjumlah sekitar dua juta jiwa berdesakan di sepanjang garis pantai yang sempit. Sebagian besar dari mereka kini terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat atau reruntuhan bangunan yang rawan runtuh, menghadapi krisis kemanusiaan yang kian memprihatinkan tanpa jaminan keamanan yang pasti. Kondisi ini memperparah penderitaan fisik dan psikologis jutaan warga sipil yang terjebak di tengah pusaran konflik tanpa akhir.






