Sejumlah pangkalan militer milik Pasukan Mobilisasi Populer Irak atau Popular Mobilization Forces (PMF) menjadi sasaran serangan udara yang dilancarkan pada hari Rabu, 29 Juli 2026. Serangan udara berskala besar ini dilaporkan melibatkan kekuatan militer dari Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS). Serangan tersebut menghantam beberapa lokasi pertahanan kelompok bersenjata tersebut yang tersebar di wilayah Irak, memicu kerusakan signifikan di area-area yang menjadi target operasi.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, wilayah-wilayah yang menjadi sasaran serangan udara ini mencakup beberapa daerah penting di Irak. Salah satu titik serangan dilaporkan berada di kawasan Bartella yang terletak di Provinsi Nineveh. Selain itu, serangan udara juga menyasar instalasi militer di wilayah Basra yang berada di bagian selatan Irak. Gempuran udara ini mengakibatkan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas penting milik PMF. Dokumentasi visual pascaserangan memperlihatkan dampak kerusakan yang masif, termasuk kondisi salah satu bangunan yang hangus terbakar hingga rata dengan tanah akibat hantaman proyektil.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Pihak berwenang di Riyadh telah memberikan konfirmasi resmi mengenai keterlibatan militer Arab Saudi dalam operasi udara ini. Pemerintah Arab Saudi membenarkan bahwa angkatan bersenjata mereka memang melakukan serangan udara yang ditujukan kepada kelompok-kelompok bersenjata yang mendapat dukungan dari Iran di wilayah Irak. Lebih lanjut, pihak Riyadh menyatakan bahwa seluruh rangkaian operasi militer ini dilaksanakan melalui koordinasi erat dengan Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command (CENTCOM).
Dampak dari serangan udara terkoordinasi ini juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa di pihak PMF. Di kota Mosul, suasana duka dan ketegangan terlihat saat sejumlah orang membawa jenazah keluar dari kamar mayat Rumah Sakit Umum Al Hamdaniya. Jenazah-jenazah tersebut diyakini merupakan para anggota PMF yang tewas dalam serangan udara yang menghantam pangkalan mereka pada Rabu kemarin. Sementara itu di Basra, situasi pascaserangan ditandai dengan peningkatan kewaspadaan. Anggota PMF terlihat berjaga-jaga dengan ketat di luar markas Komando Operasi Basra setelah fasilitas komando tersebut dilaporkan menjadi salah satu sasaran utama dalam serangan udara ini.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Popular Mobilization Forces (PMF) sendiri dikenal sebagai organisasi payung yang menaungi berbagai kelompok bersenjata di Irak. Kelompok-kelompok di bawah naungan PMF ini memiliki afiliasi dan hubungan dengan berbagai macam kekuatan politik serta keagamaan di dalam negeri Irak. Di dalam struktur PMF, terdapat sejumlah faksi bersenjata yang dikenal memiliki hubungan dan kedekatan yang sangat erat dengan Iran. Keberadaan faksi-faksi inilah yang menjadi sasaran dalam operasi militer bersama yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat.






