Kyiv, ibu kota Ukraina, kembali digempur gelombang serangan drone Rusia selama beberapa hari terakhir. Serangan udara bertubi-tubi ini dilaporkan telah menguras sistem pertahanan udara Ukraina yang terbatas. Pada Sabtu (29/8/2026), otoritas setempat melaporkan sedikitnya 37 orang tewas akibat serangan yang menghantam sebuah fasilitas di luar Kyiv.
Serangan yang terjadi pada Jumat (28/8/2026) malam tersebut memicu ledakan susulan dalam skala besar. Lokasi yang menjadi sasaran diindikasikan sebagai gudang amunisi. Fasilitas ini diketahui berada di dekat kawasan pemukiman warga serta tempat penampungan lansia dan penyandang disabilitas. Menyusul peristiwa tersebut, wilayah Kyiv menetapkan hari Minggu sebagai hari berkabung.
Insiden ini memicu kritik keras dari internal pemerintah Ukraina. Perdana Menteri Ukraina, Serhii Koretskyi, mengecam keras penempatan persenjataan di dekat area sipil tersebut. "Membuat kesalahan yang sama selama tahun kelima invasi skala penuh adalah kelalaian kriminal," ujarnya. Kritik ini merujuk pada insiden serupa bulan lalu, ketika sebuah gudang amunisi di wilayah lain di luar Kyiv juga hancur akibat serangan.
Turki dan Israel Memanas, Kian Sengit Rebutan Pengaruh di Timur Tengah

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa penyelidikan kriminal terhadap pengelolaan gudang tersebut telah dimulai.
Di sisi lain, militer Ukraina kini menghadapi tantangan berat karena sebagian drone Rusia menggunakan mesin jet yang mampu terbang dengan kecepatan hampir 400 mil per jam. Di saat yang sama, Ukraina mengalami kekurangan parah rudal pencegat Patriot, yang merupakan satu-satunya senjata andalan mereka untuk menembak jatuh rudal balistik. Selain gudang amunisi, serangan terbaru Rusia juga menyasar sejumlah gudang dan pusat perbelanjaan.
Sempat Dikira Gempa, Gletser Runtuh Terjadi di Wilayah Nepal-Tibet

Rangkaian serangan ini berdampak langsung pada aktivitas warga di Kyiv. Kemacetan lalu lintas parah terjadi di berbagai sudut kota, sementara layanan kereta metro mengalami keterlambatan. Situasi ini juga berpotensi mengganggu rencana para pelajar yang dijadwalkan kembali bersekolah pada Selasa (1/9/2026) mendatang.






