Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat menyusul serangan udara Israel ke sebuah pangkalan udara nonaktif di Suriah utara pekan lalu. Langkah militer ini mempertegas persaingan kedua kekuatan regional yang kian sengit dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Israel mengklaim serangan tersebut sebagai tindakan pencegahan terhadap dugaan rencana penempatan pasukan Turki di lokasi itu. Meskipun demikian, pemerintah Turki maupun Suriah membantah adanya rencana pengerahan pasukan ke pangkalan udara tersebut. Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun memicu kritik dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, yang menyebut serangan itu sebagai eskalasi yang tidak perlu.
Perebutan Pengaruh dari Suriah hingga Tanduk Afrika
Perselisihan ini tidak lepas dari perubahan konstelasi politik di Suriah setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024. Pemerintahan baru Suriah kini dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, sosok yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Turki namun dicurigai oleh Israel. Dalam hal visi masa depan Suriah, Turki menginginkan negara tetangganya itu stabil dan bersatu di bawah kepemimpinan yang didukungnya. Sebaliknya, Israel lebih memilih melihat Suriah yang terpecah dengan kekuatan militer yang lemah guna mencegah munculnya ancaman baru di perbatasannya.
Investigasi Ungkap Kontrak Rp51 Triliun Inggris Mengalir ke Perusahaan Terkait Permukiman Israel

Rivalitas kedua negara juga merambah hingga ke luar Timur Tengah. Di Tanduk Afrika, Turki menanamkan pengaruh diplomatik dan militer yang kuat di Somalia. Sebagai tandingan, Israel pada Desember lalu menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland鈥攚ilayah memisahkan diri yang langsung memicu kecaman keras dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Di Mediterania Timur, Israel memperkuat kerja sama militer dan energi dengan Yunani dan Siprus, dua negara yang memiliki sengketa wilayah jangka panjang dengan Turki. Menanggapi pergeseran aliansi ini, Turki pada bulan ini menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan. Para analis menilai langkah pertahanan bersama tersebut ditujukan untuk mengimbangi dominasi dan pengaruh Israel di kawasan.
Retorika Politik dan Jalur Hukum
Di ranah diplomatik, hubungan kedua negara diwarnai saling serang secara verbal. Presiden Erdogan kerap menyebut Israel sebagai "negara teror" dan menyamakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Hitler. Netanyahu membalas tudingan tersebut dengan menyebut Erdogan sebagai diktator antisemit. Pejabat Israel lainnya juga menuduh Turki mendukung terorisme dan bertindak layaknya negara musuh. Melalui video di media sosial, Netanyahu menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan kehadiran militer Turki meluas ke arah selatan.
Serangan Drone Rusia Hantam Fasilitas di Luar Kyiv, 37 Orang Tewas

Ketegangan ini diperparah oleh langkah hukum Turki yang mengumumkan upaya penangkapan Netanyahu melalui Interpol atas tuduhan genosida dan penyiksaan. Upaya hukum tersebut terkait dengan kasus domestik di Turki mengenai perlakuan aparat Israel terhadap aktivis pro-Palestina yang dicegat di laut saat berlayar menuju Gaza. Perseteruan ini juga berlatar belakang konflik di Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel, yang kemudian dibalas dengan operasi militer Israel yang menurut otoritas kesehatan Gaza telah menewaskan sekitar 73.000 orang.
Meskipun ketegangan terus memuncak, sejumlah pengamat menilai bentrokan militer secara langsung antara Turki dan Israel kecil kemungkinan terjadi. Amerika Serikat, sebagai sekutu dekat dari kedua negara, memiliki kepentingan besar untuk meredam situasi dan mencegah pecahnya konflik terbuka. Bagi kedua pemimpin, retorika keras ini juga dinilai menguntungkan secara politik di dalam negeri masing-masing, mengingat kedua negara sama-sama tidak populer di mata publik rivalnya. Sejumlah analis Israel bahkan berspekulasi bahwa Netanyahu memanfaatkan serangan ke Suriah ini untuk memperkuat citra keamanan nasionalnya menjelang pemilu Israel pada Oktober mendatang.






