Bagaimana cara sebuah daerah kepulauan mengatasi lonjakan harga pangan sekaligus melepaskan diri dari jerat kemiskinan? Pertanyaan ini menjadi sangat krusial bagi masyarakat di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang selama ini menghadapi tantangan geografis serta keterbatasan pasokan pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa optimalisasi sektor pertanian merupakan jalan keluar yang paling nyata untuk mengatasi kemiskinan di wilayah tersebut. Penegasan ini disampaikan oleh tokoh asal Sulawesi Selatan tersebut saat melakukan kunjungan kerja langsung ke Alor pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Langkah konkret ini digulirkan setelah adanya keresahan yang disampaikan oleh Adriano Padama, seorang mahasiswa asal Alor, dalam sebuah forum dialog bersama Mentan di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Adriano mengungkapkan bahwa daerah asalnya terus didera persoalan tingginya harga beras akibat produksi lokal yang sangat minim. Berdasarkan data, kebutuhan beras di Alor mencapai sekitar 24.000 hingga 27.000 ton per tahun. Sayangnya, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kebutuhan tahunan tersebut, sehingga ketergantungan pada pasokan luar daerah sangat tinggi.
Kondisi geografis Alor turut memperparah rantai distribusi pangan dan memicu lonjakan harga. Di kawasan perkotaan Alor, harga beras berkisar antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Sementara di wilayah pedalaman, harganya merangkak naik ke angka Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Situasi akan semakin menyulitkan warga ketika musim hujan tiba karena menghambat transportasi antarpulau, di mana harga beras dapat melonjak drastis hingga mencapai Rp25.000 sampai Rp30.000 per kilogram. Guna meredam gejolak harga ini, Mentan langsung menginstruksikan Perum Bulog untuk segera menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke Alor.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Selain intervensi pasar jangka pendek tersebut, pemerintah juga merancang pengembangan pertanian jangka pendek dan jangka panjang untuk mendongkrak pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Untuk program jangka pendek, pemerintah mendorong penanaman komoditas pangan yang memberikan hasil cepat seperti padi dan jagung. Tanaman padi diproyeksikan dapat dipanen hanya dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan, sehingga bisa segera memenuhi kebutuhan konsumsi warga dan menekan ketergantungan pasokan.
Sementara untuk jangka panjang, komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa, mete, dan kakao akan dikembangkan secara masif. Pemerintah menargetkan luasan pengembangan tanaman produktif ini minimal mencapai 10.000 hektare di Alor. Skema ini dirancang dengan asumsi satu hektare lahan dikelola oleh satu keluarga, sehingga berpotensi menjangkau sekitar 10.000 keluarga. Jika rata-rata satu keluarga beranggotakan empat orang, maka program pertanian terintegrasi ini diperkirakan mampu memberikan manfaat ekonomi kepada sekitar 40.000 jiwa di Alor.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Untuk memastikan program ini berjalan cepat, pemerintah memberikan dukungan penuh berupa penyediaan bibit, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta bantuan pompa air untuk lahan-lahan yang memiliki sumber air. Seluruh biaya pengadaan bibit dan proses penanaman dalam program prioritas ini ditanggung sepenuhnya oleh negara. Melalui sinergi bantuan sarana produksi dan pemanfaatan potensi lahan yang optimal, sektor pertanian diharapkan tidak hanya menjadi penyedia makanan, melainkan pilar utama yang mengentaskan masyarakat Alor dari kemiskinan.






