Istilah "kumpul kebo" yang akrab di telinga masyarakat Indonesia modern rupanya memiliki akar sejarah yang panjang dan berliku. Jauh sebelum menjadi stigma sosial seperti sekarang, fenomena hidup bersama tanpa ikatan pernikahan ini merupakan bagian dari realitas keseharian di masa kolonial Hindia Belanda. Menariknya, frasa tersebut disinyalir lahir dari pelesetan bahasa Belanda "kumpul Gerbouw"鈥攄i mana gerbouw berarti bangunan atau rumah鈥攜ang digunakan masyarakat lokal untuk menyindir pasangan yang berbagi atap tanpa status resmi.
Praktik ini bukan sekadar persoalan moralitas individual, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan dan tantangan logistik zaman VOC. Pada masa itu, mendatangkan istri atau perempuan Eropa ke Nusantara merupakan perkara yang sangat sulit. Selain membutuhkan biaya transportasi yang luar biasa besar, risiko kesehatan akibat penyakit tropis yang mematikan membuat banyak pria Eropa enggan membawa keluarga mereka. Sebagai jalan keluar, para pejabat kolonial hingga prajurit kelas bawah memilih menjalin hubungan informal dengan perempuan lokal, yang sebagian besar berstatus sebagai budak.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Gaya hidup ini bahkan dipraktikkan oleh para pemegang kekuasaan tertinggi di Batavia. Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (masa jabatan 1743-1750), misalnya, diketahui tinggal bersama seorang budak pemberian Ratu Bone yang kemudian dibaptis dengan nama Helena Pieters. Meskipun Van Imhoff tercatat sudah memiliki istri sah, Helena tetap mendampinginya sebagai teman hidup hingga melahirkan beberapa anak. Pola serupa juga dijalani oleh penerusnya, Gubernur Jenderal Reinier de Klerk (1777-1780), yang memiliki banyak anak dari hubungannya dengan budak perempuan sebelum anak-anak tersebut dikirim ke Belanda.
Kondisi ini tidak banyak berubah ketika kekuasaan beralih ke tangan Inggris. Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles dikenal sangat permisif terhadap hubungan informal yang dijalin oleh bawahannya. Salah satu penasihat pentingnya yang juga anggota Dewan Hindia, Herman Warner Muntinghe, tetap memelihara tiga budak perempuan di kediamannya meski telah beristri seorang perempuan Indo-Belanda. Rekan dekat Raffles, Alexander Hare, bahkan memanfaatkan pengaruh politiknya untuk mengumpulkan perempuan dari berbagai daerah guna dijadikan pendamping hidup tanpa ikatan pernikahan.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Fenomena hubungan tanpa status di masa kolonial ini ibarat puncak gunung es. Di luar lingkaran elite kekuasaan, ribuan serdadu, pegawai administrasi tingkat rendah, hingga pedagang Eropa di berbagai pelosok Nusantara juga melakoni pola hidup yang sama. Hubungan-hubungan informal ini pada akhirnya membentuk struktur sosial baru yang unik di Hindia Belanda, meninggalkan jejak sejarah yang masih membekas dalam perbendaharaan istilah sosial masyarakat Indonesia hingga hari ini.






