Suasana di Istana Merdeka, Jakarta, tampak berbeda pada Kamis, 6 Agustus 2026. Presiden Prabowo Subianto secara khusus mengundang sebanyak 150 peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempresentasikan hasil karya terbaik mereka. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara tidak hanya mendengarkan paparan ilmiah, melainkan juga berinteraksi langsung dengan produk-produk inovasi yang dipamerkan. Presiden sempat mencicipi air mineral yang diproses melalui mesin pengolah air BRIN yang diklaim dapat langsung diminum, serta mencoba keripik ubi hasil olahan para peneliti. Tidak hanya itu, aksi unik dilakukan Presiden saat menguji kekuatan genteng buatan BRIN dengan cara membanting hingga menginjaknya langsung di hadapan para hadirin. Genteng inovatif tersebut diketahui dipasarkan seharga Rp 26.000 per buah, lebih mahal dibandingkan genteng tanah biasa yang umumnya dijual seharga Rp 7.000.
Kehadiran para peneliti ke istana ini dilatarbelakangi oleh visi besar pemerintah terhadap pentingnya iptek dalam pembangunan nasional. Presiden Prabowo menegaskan bahwa masa depan dan kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana bangsa tersebut mampu menguasai sains dan teknologi. Beliau secara terbuka mengakui bahwa investasi Indonesia di bidang penelitian dan pengembangan (R&D) saat ini masih sangat rendah dan jauh dari porsi yang seharusnya. Rendahnya alokasi dana riset dinilai menghambat akselerasi inovasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan domestik.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Guna mengatasi masalah keterbatasan dana riset tersebut, Presiden memaparkan rencana strategis mengenai sumber pembiayaan baru. Pemerintah berkomitmen mengalihkan dana hasil penyelamatan anggaran negara dari kebocoran untuk memperkuat sektor riset. Dana segar tersebut rencananya akan bersumber dari penghematan atas pemberantasan praktik-praktik koruptif, penipuan atau fraud, serta manipulasi nilai transaksi perdagangan seperti underinvoicing. Melalui penertiban administrasi dan pemberantasan korupsi ini, diharapkan anggaran untuk pengembangan teknologi dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa membebani pos anggaran krusial lainnya.
Selain membahas riset, pertemuan ini juga menjadi wadah bagi Presiden untuk merefleksikan kualitas pendidikan nasional yang tecermin dari skor membaca PISA. Indonesia saat ini mencatatkan skor membaca yang hanya berada sedikit di atas Filipina. Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, serta tertinggal dari Belanda, Vietnam, rata-rata negara OECD, Jepang, dan Singapura. Namun, Presiden memberikan catatan bahwa membandingkan Indonesia dengan Singapura tidak sepenuhnya setara, mengingat Singapura merupakan negara kecil dengan populasi hanya sekitar 5 juta jiwa yang setara dengan satu kota saja.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Sebagai langkah tindak lanjut untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia, Presiden Prabowo mencanangkan investasi besar di bidang pendidikan bagi generasi penerus. Rencana tersebut mencakup perbaikan fasilitas fisik seluruh sekolah yang rusak, pembangunan sekolah-sekolah unggulan yang dikhususkan bagi siswa-siswi berprestasi tinggi, serta penerapan kurikulum International Baccalaureate (IB). Kepala BRIN Arif Satria turut mendampingi jalannya kegiatan ini. Di sela-sela pemaparannya, Presiden juga menyelipkan pesan emosional mengenai kegagalan tim nasional sepak bola Indonesia lolos ke Piala Dunia FIFA 2026. Beliau meminta agar seluruh pihak tidak mengeluh atau mencari kambing hitam atas kegagalan tersebut, melainkan menjadikannya sarana introspeksi diri. Di akhir pertemuan, Presiden menyampaikan keinginannya untuk melakukan kunjungan kerja langsung ke kampus-kampus BRIN guna melihat lebih dekat aktivitas riset para ilmuwan tanah air.






