Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Senin (24/8/2026), dibuka menguat tipis sebesar 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp17.690 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang rupiah berada di level Rp17.694 per dolar AS.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis. Nilai transaksi diperkirakan berada dalam kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin ini.
Perkembangan ini melanjutkan tren positif dari akhir pekan lalu. Pada Jumat (21/8/2026), rupiah ditutup menguat 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp17.694 per dolar AS dari posisi sebelumnya di level Rp17.748 per dolar AS. Sejalan dengan pasar spot, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke posisi Rp17.705 per dolar AS pada hari Jumat, setelah sebelumnya sempat berada di level Rp17.779 per dolar AS.
DSI Pantau Transaksi Ekspor Tiga Komoditas Strategis Senilai Rp1.239 Triliun

Sentimen Global dan Penurunan Harga Minyak
Kondisi pasar komoditas global menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah. Harga minyak mentah Brent terpantau mengalami penurunan lebih dari 13 persen hingga berada di bawah level US$90 per barel. Penurunan harga minyak mentah ini dinilai menjadi salah satu penopang bagi penguatan rupiah.
Selain itu, pasar keuangan juga merespons kebijakan dari Amerika Serikat. Pemerintah AS mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Di sisi lain, risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan di antara para pejabat The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Situasi eksternal ini turut menjadi perhatian Muhammad Amru Syifa, analis Research and Development dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
Investor Pasar Modal Tembus 30,3 Juta, Pemula Jangan Ikut Tren

Kondisi Ekonomi Domestik Tetap Terjaga
Dari dalam negeri, stabilitas nilai tukar didukung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
Langkah ini diperkuat dengan membaiknya data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar US$0,9 miliar. Angka defisit ini mengalami penyusutan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kuartal I 2026 yang sempat mencapai US$9,1 miliar.






