Rencana Rahasia Amerika Serikat Merebut Cadangan Uranium Iran

Andi TobanPublished 27 Jul 2026 - 07.090 Reads
Bagikan WhatsAppX
Rencana Rahasia Amerika Serikat Merebut Cadangan Uranium Iran
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Rencana militer Amerika Serikat kini memasuki babak baru yang sangat berisiko. Pentagon dilaporkan tengah menggodok sebuah cetak biru operasi militer berskala besar yang bertujuan untuk merebut dan mengevakuasi cadangan uranium yang diperkaya milik Iran. Rencana yang diungkap oleh New York Post ini digambarkan sebagai salah satu misi paling rumit dan berbahaya dalam sejarah militer modern, mengingat tingkat kesulitan teknis dan risiko geopolitik yang sangat tinggi.

Skenario penyerbuan ini tidak hanya melibatkan serangan udara, melainkan pengerahan ribuan tentara angkatan darat AS untuk menguasai wilayah sekitar fasilitas nuklir Iran. Setelah perimeter keamanan terbentuk, unit-unit khusus yang sangat terlatih akan diterjunkan langsung ke jantung pertahanan lawan. Tim elite seperti Silver Squadron dari SEAL Team 6, Batalyon Ranger ke-2 Angkatan Darat AS, serta unit khusus 21st Ordnance Company ditugaskan untuk mengamankan dan mengangkut material radioaktif tersebut keluar dari situs-situs sensitif seperti Fordo dan Isfahan.

Also Read

Inggris Bagikan Teknologi Perang Elektronik Stone Cloak untuk Ukraina

Misi ini semakin rumit karena sebaran material nuklir Iran yang tidak merata dan tersembunyi di bawah tanah. Iran diketahui memiliki empat instalasi nuklir utama, yaitu Fordo, Natanz, Isfahan, dan kompleks Gunung Pickaxe yang dibangun jauh di dalam batuan granit keras. Dari perkiraan total 440 kilogram uranium yang diperkaya, sekitar 200 kilogram diyakini tertimbun di dalam terowongan bawah tanah di kawasan Isfahan, sementara sisanya tersebar di titik lain termasuk Natanz. Sebagian besar fasilitas ini sebelumnya telah digempur oleh kekuatan udara AS dan Israel tahun lalu, menyisakan reruntuhan yang menimbun material berbahaya tersebut.

Pemerintah Iran sendiri tampak enggan mengusik sisa-sisa material tersebut. Pada Maret lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa persediaan uranium tingkat tinggi mereka tetap dibiarkan terkubur di bawah puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan terdahulu. Teheran menyatakan tidak memiliki niat untuk menggali kembali atau menurunkan kadar pengayaan uranium tersebut. Sikap ini memaksa militer AS harus bekerja ekstra keras, termasuk mengerahkan personel teknik tempur untuk membersihkan jebakan serta membuka kembali akses terowongan yang telah runtuh demi menjangkau target.

Also Read

Ketegangan Diplomatik Meningkat Setelah Presiden Argentina Serang Pemerintah Brasil

Joseph Rodgers, Wakil Direktur Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai opsi militer ini menguat seiring mandeknya jalur diplomasi. Meskipun militer Iran telah terpukul oleh serangan-serangan sebelumnya, Rodgers mengingatkan bahwa pertahanan mereka masih jauh lebih tangguh dan terorganisasi dibandingkan pengawal rezim di negara lain seperti Venezuela. Selain itu, laporan dari The New York Times memperingatkan bahaya lingkungan yang sangat besar. Kedalaman bunker penyimpanan membuat bom penghancur bunker terkuat milik Pentagon sekalipun tidak mampu melumatnya, sementara proses evakuasi fisik uranium sangat berisiko memicu pelepasan racun mematikan jika material tersebut terpapar oleh kelembaban udara selama operasi berlangsung.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca