Perempuan pekerja dengan disabilitas tak tampak di Indonesia masih menghadapi tantangan yang sangat berlapis dalam memperjuangkan hak-hak mereka di dunia kerja saat ini. Berbeda dengan penyandang disabilitas fisik yang kondisinya dapat langsung diidentifikasi secara visual, mereka yang memiliki disabilitas tak tampak sering kali harus berhadapan dengan keraguan serta ketidakpercayaan dari lingkungan kerja sekitar. Kondisi ini menempatkan pekerja perempuan pada posisi yang sangat rentan, di mana mereka kerap mendapatkan stigma negatif ganda. Bahkan, tantangan yang didapatkan di lapangan tidak hanya bersifat ganda, melainkan berupa penyematan multistigma yang berlapis-lapis, baik di ranah profesional maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Salah satu bentuk disabilitas tak tampak yang dialami pekerja adalah penyakit kronis. Berdasarkan penjelasan resmi dari badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), sakit kronis didefinisikan sebagai penyakit yang terjadi dengan durasi panjang yang pada umumnya berkembang secara lambat. WHO juga memaparkan bahwa kondisi medis ini terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, yang meliputi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, serta perilaku dari individu tersebut. Karena karakteristik penyakit ini yang sering kali tidak menunjukkan gejala fisik luar yang jelas, rekan kerja maupun pihak manajemen perusahaan kerap kali tidak menyadari atau bahkan meremehkan rasa sakit serta keterbatasan fisik yang dirasakan oleh pekerja yang bersangkutan.








