Pemerataan akses internet cepat di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal tingkat penetrasi. Berdasarkan laporan berjudul "The Mobile Economy Asia Pacific 2025" yang dirilis oleh Global System for Mobile Communication Association (GSMA), tingkat adopsi jaringan generasi kelima (5G) di Indonesia diprediksi baru akan mencapai 32 persen pada tahun 2030. Meskipun proyeksi ini meningkat dari tingkat adopsi tahun 2024 yang hanya berada di kisaran 4 persen, angka tersebut masih berada di bawah pencapaian negara-negara tetangga. Sebagai perbandingan, tingkat penetrasi 5G pada tahun 2030 mendatang diproyeksikan mencapai 46 persen di Filipina, 50 persen di Malaysia, 57 persen di India, dan 62 persen di Vietnam. Sementara itu, Korea Selatan, Singapura, Jepang, dan Australia diprediksi akan memimpin dengan tingkat adopsi berkisar antara 87 hingga 94 persen.
Julian Gorman, selaku Head of Asia Pacific untuk GSMA, memberikan gambaran mengenai kebijakan negara lain dalam mendorong adopsi teknologi ini. Sebagai contoh, pemerintah Vietnam menawarkan subsidi spektrum dan potongan harga hingga 90 persen kepada operator seluler. Di sisi lain, India memberikan subsidi kepada operator untuk membangun jaringan di luar persyaratan lisensi dan kewajiban mereka. Di Indonesia sendiri, langkah pengembangan jaringan terus dilakukan oleh para operator, salah satunya adalah XLSmart yang memperluas cakupan jaringan 5G mereka di wilayah Jawa Timur.
Kemkomdigi Perpanjang Izin Landing Right Starlink di Indonesia dengan Ketentuan Ketat

Menurut Regional Group Head XLSmart Area Jawa Timur, Dodik Ariyanto, perluasan jaringan 5G ini mencakup delapan kota dan kabupaten di Jawa Timur, yaitu Surabaya, Bangkalan, Gresik, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, dan Tuban. Surabaya sendiri menjadi kota pertama yang mendapatkan implementasi 5G Blanket Coverage dari XLSmart. Head of Regional Technical Network XLSmart, Moch. Irwan Harahap, menjelaskan bahwa infrastruktur XLSmart di Jawa Timur ditopang oleh lebih dari 29.000 BTS yang mayoritas merupakan BTS 4G, serta mencakup sekitar 2.100 BTS 5G. Ekspansi ini sejalan dengan peningkatan trafik layanan data XLSmart di Jawa Timur sebesar 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rata-rata konsumsi data pelanggan mencapai 25 GB per bulan.
Selain pengembangan di area perkotaan dan wilayah berkembang, upaya penyediaan konektivitas juga difokuskan pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam hal ini, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) saling berbagi peran untuk membangun konektivitas internet di wilayah 3T tersebut. Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, menjelaskan bahwa di bawah model kolaborasi saat ini, Bakti menangani seluruh infrastruktur secara menyeluruh, mulai dari penyediaan menara, operasional, perangkat, hingga BTS.
Mengenal Fitur Camo Studio untuk Meningkatkan Kualitas Video Konferensi

Sementara itu, pihak Telkomsel berperan untuk menghubungkan titik-titik point of interest dari jaringan Bakti ke jaringan inti milik perusahaan. VP Network Strategic Collaboration & Settlement Telkomsel, Deni Kurniawan, memaparkan bahwa trafik dari titik-titik tersebut kemudian dibawa menuju core network Telkomsel yang berada di Jawa. Skema kolaborasi ini telah menghubungkan sekitar 81 site Bakti di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 6.747 lokasi atau desa yang memanfaatkan layanan Telkomsel untuk mendapatkan akses jaringan 4G. Di samping itu, dari total 131 lokasi Palapa Ring, tercatat baru sekitar 57 pemain layanan yang aktif beroperasi.






