Harga minyak mentah dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis pagi (13/8/2026), meski posisinya masih bertahan di level tinggi. Pelaku pasar tengah mencermati proyeksi terbaru International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan defisit pasokan minyak global akan semakin dalam akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Merujuk data Refinitiv pada pukul 09.55 WIB, harga minyak mentah Brent berada di level US$87,95 per barel atau turun 1,16 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di US$88,98 per barel. Pada saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,28 persen ke posisi US$82,20 per barel dari penutupan hari sebelumnya di US$83,27 per barel.
Meskipun mengalami koreksi harian, tren harga minyak secara umum masih menguat dibandingkan posisi awal bulan. Jika dibandingkan dengan penutupan pada 4 Agustus lalu, minyak Brent telah naik sekitar 10,8 persen, sementara WTI menguat sekitar 8,5 persen. Reli kenaikan harga tersebut dipicu oleh meningkatnya premi risiko pasokan menyusul kembali pecahnya konflik di kawasan Teluk. Dalam laporan bulanan terbarunya, IEA memangkas proyeksi pasokan minyak global tahun 2026 menjadi 102,02 juta barel per hari (bph). Angka ini mencerminkan penurunan pasokan sebesar 4,3 juta bph dibandingkan tahun sebelumnya, lebih dalam dari proyeksi Juli yang memperkirakan penurunan 3,7 juta bph.
Rekomendasi Saham Hari Ini, PTRO, BRPT, hingga TUGU

IEA memproyeksikan total produksi minyak dunia sepanjang 2026 akan berada sekitar 1,27 juta bph di bawah volume permintaan. Ketimpangan pasokan diperkirakan memuncak pada kuartal III-2026 dengan defisit pasar mencapai 1,8 juta bph, lebih besar 1 juta bph dibandingkan estimasi bulan sebelumnya. Jika terealisasi, kondisi tersebut akan menjadi defisit kuartalan terdalam sejak kuartal IV-2021. Pemburukan pasokan ini dipicu oleh gangguan arus perdagangan di Timur Tengah setelah runtuhnya gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran bulan lalu, yang memicu kembali serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Gangguan logistik juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb akibat serangan kelompok Houthi, bersamaan dengan blokade ekspor Iran oleh Amerika Serikat dan hambatan pengiriman minyak Kazakhstan.
Gangguan keamanan jalur pelayaran tersebut berdampak langsung pada volume distribusi energi dari Timur Tengah. IEA mencatat aktivitas pengapalan minyak dari kawasan tersebut sempat pulih hingga sekitar 20 juta bph pada awal Juli, namun kembali merosot menjadi sekitar 12 juta bph menjelang akhir bulan. Di sektor hulu, produksi minyak kawasan Timur Tengah masih berada 8,3 juta bph di bawah tingkat sebelum konflik, kendati capaian ini membaik dibandingkan kehilangan produksi yang sempat menyentuh 14 juta bph pada puncak krisis.
Terimbas Penutupan Tambang Ilegal, Kinerja Keuangan TINS Melesat

Di sisi permintaan, IEA merevisi turun proyeksi konsumsi minyak global dengan memperkirakan penyusutan sebesar 1,6 juta bph sepanjang 2026, lebih dalam dari perkiraan sebelumnya sekitar 1 juta bph. Tingginya harga energi dan terbatasnya pasokan produk kilang menekan konsumsi nafta serta gasoil, terutama di Asia dan Timur Tengah. Sementara itu, OPEC turut memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan menjadi bertambah 580 ribu bph, lebih rendah 200 ribu bph dari perkiraan sebelumnya. Perbedaan pandangan antara kedua lembaga tersebut berlangsung saat pasar terus mengantisipasi risiko disrupsi pasokan selama jalur ekspor utama belum beroperasi normal.






