Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada akhir perdagangan sesi I hari Kamis, 13 Agustus 2026. Pada awal perdagangan hari ini, IHSG sebenarnya sempat dibuka menguat ke level 6.388,23 dan menyentuh titik tertinggi di posisi 6.390,33. Namun, pergerakan indeks segera berbalik arah hingga sempat terperosok ke level terendah di 6.281,57 sebelum akhirnya sedikit memangkas pelemahan pada jeda siang. IHSG ditutup melemah 75,51 poin atau 1,18 persen dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.373,85, sehingga kini berada di posisi 6.298,34.
Tekanan pasar ini berlanjut setelah hasil tinjauan indeks MSCI bulan Agustus 2026 diumumkan pada dini hari. Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia hingga sesi pertama mencatatkan nilai transaksi saham mencapai Rp7,80 triliun. Volume perdagangan tercatat sebesar 16,44 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 1,17 juta kali. Pada sesi ini, pergerakan harga saham didominasi oleh tren negatif dengan 456 saham melemah, 182 saham menguat, dan 325 saham lainnya bergerak stagnan.
Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor utama terpuruk di zona merah, kecuali sektor teknologi yang relatif stabil dengan hanya turun tipis 0,05 persen. Sektor kesehatan mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 2,72 persen, disusul oleh sektor bahan baku yang melemah 2,45 persen. Sektor keuangan juga mengalami penurunan sebesar 1,03 persen, diikuti sektor energi yang turun 0,99 persen, sektor konsumer non-primer melemah 0,80 persen, sektor utilitas terkoreksi 0,82 persen, sektor industri turun 0,75 persen, serta sektor properti yang melemah 0,66 persen.
Harga Minyak Dunia Terkoreksi Tipis di Tengah Ancaman Defisit Pasokan Global

Pelemahan indeks pada paruh pertama hari ini sangat dipengaruhi oleh penurunan harga saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu beban utama IHSG dengan kontribusi penurunan sekitar 9,97 poin indeks, di mana saham BBCA merosot 1,57 persen ke level Rp6.275. Selain itu, tekanan juga datang dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menyumbang penurunan sebesar 5,25 poin, PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) sebesar 5,15 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 3,81 poin, serta PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebesar 2,94 poin. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menjadi pemberat dengan kontribusi negatif sebesar 2,77 poin indeks dan berada di level Rp4.110.
Sebaliknya, beberapa saham berupaya menahan kejatuhan indeks lebih dalam. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi penyumbang poin positif terbesar dengan 0,75 poin. Upaya penahanan ini juga diikuti oleh XLSMART Telecom Sejahtera yang menyumbang 0,58 poin, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar 0,58 poin, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebesar 0,55 poin, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 0,52 poin.
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.878 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Sentimen negatif pasar hari ini dipicu oleh hasil review MSCI Agustus 2026 yang mengumumkan bahwa tidak ada saham dari Indonesia yang ditambahkan ke dalam MSCI Global Standard Indexes. Di sisi lain, saham GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, sedangkan CPIN diturunkan kelasnya dari Global Standard ke Global Small Cap. Sembilan saham Indonesia lainnya juga turut dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes. Seluruh perubahan ini baru akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026, sehingga penurunan hari ini dinilai sebagai respons awal pelaku pasar dalam mengantisipasi penyesuaian portofolio tersebut.






