Bagaimana kondisi psikologis para prajurit yang bertugas di garda depan pertempuran ketika masa tugas mereka terus diperpanjang tanpa kepastian? Pertanyaan ini mengemuka setelah munculnya laporan mengenai tekanan mental hebat yang dihadapi oleh ribuan awak kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, yang saat ini tengah beroperasi di Timur Tengah.
Kapal induk USS Abraham Lincoln kini telah memasuki bulan kelima operasi tempurnya melawan Iran. Di atas kapal tersebut, terdapat lebih dari 5.000 pelaut dan marinir yang telah menghabiskan waktu selama sembilan bulan di laut lepas. Kapal ini mencatat rekor baru bagi kapal induk dalam era modern dengan menghabiskan 250 hari berturut-turut tanpa bersandar di daratan. Awalnya, kapal yang berangkat dari San Diego pada 21 November tersebut dijadwalkan bertugas di kawasan Pasifik. Namun, setelah pecah konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, rute kapal dialihkan ke Timur Tengah.
Apindo dan KBPBI Sepakat Bentuk Tim Perumus Bersama untuk RUU Ketenagakerjaan

Akibat perpanjangan masa tugas yang berulang kali dari jadwal semula pada bulan Mei, kondisi mental awak kapal dilaporkan merosot tajam. Dalam sebuah pertemuan di San Diego yang dihadiri sekitar 200 anggota keluarga serta Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao, keluhan mendalam disampaikan langsung kepada pimpinan militer. Salah satu anggota keluarga, Annabelle Loma, mengungkapkan bahwa suaminya sempat mencoba melompat ke laut untuk mengakhiri hidup setelah masa tugasnya terus diperpanjang. Suaminya juga dilaporkan pernah terlibat dalam insiden berbeda ketika berhasil mencegah seorang awak kapal lain yang mencoba melompat ke laut.
Tekanan psikologis ini diperparah oleh kondisi fasilitas di dalam kapal yang sangat memprihatinkan. Perwakilan Rakyat AS Mike Levin membeberkan laporan mengenai buruknya sanitasi dan logistik di atas USS Abraham Lincoln. Menurut laporan tersebut, para pelaut harus menghadapi kamar mandi berjamur, toilet rusak, fasilitas penatu yang tidak berfungsi selama berminggu-minggu, hingga periode panjang tanpa air panas. Pasokan logistik harian pun sangat minim, di mana makanan kadang hanya terdiri dari setengah cangkir nasi dan dua tortilla, tanpa adanya persediaan sabun, deodoran, maupun pasta gigi. Selama penugasan, para awak kapal tercatat hanya mendapatkan dua hari kesempatan untuk menginjak daratan, yakni saat singgah di Guam pada Desember dan Oman pada Juli.
Menanti Pertarungan Kaesang vs Puan di Dapil Neraka

Menanggapi situasi ini, terdapat perbedaan pernyataan antara pihak keluarga, anggota kongres, dan petinggi militer. Anggota DPR AS Jason Crow memperingatkan bahwa tekanan terhadap awak kapal beserta keluarga mereka terus meningkat. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat menepis laporan mengenai buruknya kondisi kehidupan di atas kapal tersebut. Pihak Angkatan Laut AS juga menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan laporan mengenai ide bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di atas kapal. Mereka menegaskan bahwa jaringan dukungan, termasuk tenaga medis, profesional kesehatan mental, pemuka agama, konselor ketahanan penugasan, serta kapelan kapal tetap tersedia bagi para kru. Meskipun demikian, sebuah studi tahun lalu menunjukkan bahwa kebisingan tinggi, kurang istirahat, serta layanan kesehatan yang tidak memadai tetap menjadi faktor pemicu stres yang umum bagi para pelaut selama masa penugasan.






