Praktik menghancurkan buku demi kecerdasan semu terungkap ke publik menyusul terbukanya dokumen internal perusahaan kecerdasan buatan Anthropic dalam gugatan hak cipta federal di Amerika Serikat. Investigasi The Washington Post pada akhir Januari 2026 membeberkan rincian inisiatif bernama Project Panama, sebuah langkah yang dijalankan Anthropic dengan membeli dan menghancurkan tumpukan buku fisik untuk melatih model kecerdasan buatan mereka, Claude. Proyek bernilai puluhan juta dolar tersebut memperlihatkan bagaimana korporasi teknologi mengorbankan karya literatur cetak demi mempercepat pelatihan sistem kecerdasan buatan.
Persoalan ini mencuat ke ranah hukum melalui gugatan kelompok Bartz v. Anthropic PBC yang diajukan oleh novelis Andrea Bartz bersama penulis nonfiksi Charles Graeber dan Kirk Wallace Johnson. Para penggugat menuding Anthropic memanfaatkan karya-karya mereka secara ilegal. Sebelum Project Panama berjalan di bawah pimpinan Tom Turvey yang direkrut pada Februari 2024, Anthropic telah mengumpulkan materi pelatihan digital dari jalur pembajakan. Pada Juni 2021, salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, mengunduh jutaan buku dari shadow library Library Genesis (LibGen) selama 11 hari. Langkah tersebut disusul pengunduhan sedikitnya dua juta buku dari Pirate Library Mirror pada Juli 2022, hingga total buku bajakan yang dikumpulkan menembus lebih dari tujuh juta salinan.
Aturan Pendaftaran PSE Asing Kementerian Kominfo dan Dampak Pemutusan Akses Layanan Digital

Perdebatan sengit mengenai batas hak cipta dan pengembangan teknologi mengemuka di ruang sidang. Pada akhir Juni 2025, Hakim William Alsup dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California memutuskan bahwa pelatihan model bahasa besar (LLM) menggunakan buku bersifat transformatif murni atau quintessentially transformative sehingga dilindungi doktrin fair use. Kendati demikian, Anthropic tetap menyepakati pembayaran ganti rugi senilai 1,5 miliar dolar AS untuk menyelesaikan tuntutan terkait pengunduhan materi bajakan. Kesepakatan damai tersebut mencakup 482.460 judul buku yang diunduh secara ilegal dengan kompensasi sekitar 3.000 dolar AS per judul.
Demi mengamankan pasokan data teks yang lebih bersih dari risiko hukum pembajakan digital, Anthropic beralih memborong buku fisik bekas secara masif melalui Project Panama dari vendor seperti Better World Books dan World of Books yang berbasis di Inggris. Perburuan buku fisik untuk kebutuhan pelatihan AI ini juga terjadi di berbagai negara. Toko buku antik De Vries & De Vries di Haarlem, Belanda, menerima permintaan pembelian 3.000 judul buku berbahasa Inggris berbasis ISBN dari perwakilan 2077AI yang berbasis di Singapura. Di Jerman, penjual buku antik mendapati lonjakan pesanan dini hari antara pukul 03.00 hingga 05.00 dari perusahaan Kanada bernama Zoom Books. Investigasi 404 Media turut mengungkap bahwa platform ISBNdb sempat menawarkan layanan perantara pembelian buku dalam jumlah besar khusus bagi pengembang AI.
Daftar Promo Makanan dan Minuman HUT ke-81 RI 17 Agustus 2026 Beserta Ketentuannya

Langkah agresif pengumpulan data ini menghadirkan ironi tersendiri bagi Anthropic yang dipimpin oleh Dario Amodei selaku CEO dan Daniela Amodei sebagai presiden perusahaan. Daniela sendiri merupakan lulusan Sastra Inggris dari University of California, Santa Cruz. Di satu sisi, Anthropic membangun citra etis dengan menolak permintaan Pentagon yang ingin memanfaatkan Claude untuk senjata otonom penuh maupun pengawasan massal terhadap warga sipil. Namun di sisi lain, pengorbanan jutaan karya cetak demi melatih kecerdasan buatan memicu kritik mendalam dari komunitas penulis global.






